Beranda BERITA TERBARU Arie AlFikri : Hagia Sophia dan Izah Turki

Arie AlFikri : Hagia Sophia dan Izah Turki

95
0
BERBAGI

Baru-baru ini Pengadilan Turki mengeluarkan putusan untuk mengembalikan status Hagia Sophia menjadi masjid. Dilanjutkan dengan pernyataan Presiden Erdogan bahwa salat Jumat pertama akan diadakan di sana pada 24 Juli mendatang.

Putusan tersebut sontak menimbulkan reaksi negatif sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Siprus, dan seterusnya. Reaksi paling keras datang dari Yunani yang menganggap hal tersebut menjijikkan dan tidak toleran. Erdogan membalas dengan menjelaskan tidak ada satupun masjid yang tersisa di Athena. Justru Yunani ternyata yang intoleran dengan fakta satu-satunya negara Eropa yang tanpa masjid di ibukotanya.

Dibukanya kembali Hagia Sophia untuk beribadah seakan menyiratkan pesan Erdogan terkait izah Turki. Bahwa Turki adalah negara yang punya kedaulatan, kehormatan, dan harga diri. Tak bisa diintervensi oleh negara mana pun.

Izah tentu tak muncul dalam semalam. Izah ada karena posisi tawar Turki dalam hubungan internasional. Lebih kurang 15 tahun berkuasa, Erdogan mampu membawa Turki menjadi negara yang tangguh. Kuat secara ekonomi dan militer sehingga disegani dalam percaturan internasional.

Selain itu, izah Turki juga berasal dari kebanggaan sejarah bahwa mereka dulunya adalah pemimpin peradaban dunia. Pada masa Turki Usmani, peradaban Barat justru inferior. Bangunan Hagia Sophia sendiri dibeli oleh Sultan Muhammad Al-Fatih dengan uang pribadinya. Kemudian beliau wakafkan sebagai masjid. Jadi secara keperdataan, putusan pengadilan Turki mempunyai alasan hukum yang sangat kuat.

Lagi pula, Erdogan sudah menjamin Hagia Sophia terbuka untuk semua kalangan. Sebagaimana masjid-masjid Turki lain yang juga terbuka sebagai tempat wisata bagi non muslim sekalipun. Bahkan waktu berkunjung ke Istanbul tahun lalu, tak sengaja saya melihat seorang perempuan muda yang hanya memakai kutang berbalut jaket, asyik berswafoto di kompleks Blue Mosque. Jadi bebas-bebas saja.

Menurut pengamatan saya, sebenarnya penduduk Turki rata-rata tak lebih saleh dari penduduk Indonesia. Suasana keislaman malah lebih kondusif di negeri kita. Adanya informasi jumlah jemaah salat subuh di Turki sama dengan jumlah salat Jumat kiranya hoaks saja. Namun, Turki beruntung memiliki pemimpin yang berjiwa advokasi tinggi terhadap dunia Islam. Spirit advokasi yang muncul dari “izahnya izah.” Izzal Islam wal muslimin. (FS)

LEAVE A REPLY