Beranda BERITA TERBARU NYALA MIMPI NURKHALIS, SI ANAK PEMATANG SAWAH

NYALA MIMPI NURKHALIS, SI ANAK PEMATANG SAWAH

340
0
BERBAGI

Oleh : Hajrafiv Satya Nugraha

Wartawan Luak 50

Nurkhalis Kanti bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota. Seorang pemuda yang muncul dan keluar dari kampung halaman di Kenagarian Sungai Antuan, Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota, perlahan berevolusi menjadi seorang aktivis. Namanya membinar seiring puluhan tahun berada digaris depan para petani.

Bagi aktivis sekelas Nurkhalis, bangkit adalah kata yang ditunggu. Melawan adalah semboyan untuk menang. Bergerak sekarang atau tetap tertindas dalam pembodohan. Sampai detik ini, keringat, darah dan air mata para petani masih menjadi candu bagi mereka yang duduk manis bersanding dengan para kapitalis. Nurkhalis miris akan hal ini.

Keras dan lantang langkahnya memacu denyut kemakmuran petani-petani di Sumatera Barat. Mimpi-mimpi yang sedari dini kerap memuji para petani, tak ingin hanya sekedar ilusi. Harga diri para petani harus menyala nyata, seiring pengorbanan mereka untuk menyambung nyawa banyak manusia. Perjuangan dan pengorbanan selama berpuluh tahun inilah sebuah gelar yang begitu melekat pada dirinya, Nurkhalis Si Pejuang Petani.

*****************************
Luak Nan Bungsu menyimpan ribuan cerita
Disitu ada Gunung Sago yang begitu kokoh
Tersentak batin anak petani dari Mungka
Menolak mafia yang ingin petani selalu bodoh

“Saya tidak ingin beretorika dan meniru pernyataan orang-orang terdahulu bahwa tanah ini kita tanah surga. Saya hanya ingin sesuatu yang bersifat real (fakta-red). Bagaimana menciptakan kehidupan petani Sumatera Barat ini jauh lebih baik. Jauh dari stigma kasta terendah dan memiliki kesejahteraan hidup yang layak tanpa ada permainan yang kerap menjerat leher mereka,” jelas Nurkhalis.

Pandangan Nurkhalis yang tidak ingin beretorika seperti halnya tanah kita (Indonesia-red) adalah tanah surga ini tidak bisa menjadi acuan. Percuma memiliki tanah yang subur, tetapi tidak mendapatkan wadah yang mendukung untuk memasarkan produk. Apalagi adanya keterlibatan mafia di sekitar petani. Sedangkan penguasa hanya diam menonton dan acuh.

Dimana hari ini harga pupuk, bibit, anti hama dan alat-alat pertanian terus beranjak naik. Sedangkan harga penjualan panen tidak stabil dan tergolong murah. Ini akan memaksa petani untuk memproduksi dalam jumlah besar agar mencukupi kebutuhan hidup.
Akibat jumlah produksi ini, akhirnya petani harus menggelontorkan biaya lagi untuk transportasi agar bisa dilempar ke pasaran. Alhasil, jerih payah petani tidak sebanding upah yang diterimanya. Ditambah lagi tingkah pemodal yang kerap menjerat leher petani dengan bunga tinggi.

“Jadi banyak persoalan para petani hari ini. Di kampung halaman saya di Kabupaten Limapuluh Kota juga seperti itu. Belum ada keberpihakan kepada nasib petani. Keringat dan air mata mereka masih menjadi candu yang nikmat bagi mereka yang ingin mencari kekayaan. Akhirnya hidup para petani seperti main bola kaki. Lebih banyak bola dimainkan di tengah lapangan daripada Goal. Jika Goal, memang petani bisa tersenyum, tetapi tak lama setelah itu murung lagi. Dipermainkan lagi,” terang Nurkhalis.

Dimimpinya, ada wadah yang mampu menampung segala perlik persoalan para petani. Dimana persoalan tersebut bisa menembus pahitnya kehidupan para petani hari ini baik untuk hak dan tanggung jawabnya kepada keluarga. Termasuk pencerdasan kepada petani dalam hal teknologi pertanian.

“Kesejahteraan dan pelayanan petani kita sangat jauh berbeda dengan petani di Eropa. Padahal kita selama ini sering mengangungkan petani. Namun, petani kita hari ini masih mencari hidup sepagi dan sepetang. Ini dikarenakan mereka masih mengandalkan tenaga secara manual. Teknologi yang mendukung penghasilan mereka juga masih manual. Belum ada teknologi yang bisa memaksimalkan hasil bumi. Padahal, Limapuluh Kota masih banyak lahan kosong yang bisa produktif,” jelasnya.

Dalam data BPS, Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Limapuluh Kota terbesar yaitu 30,92 persen. Sebuah angka yang cukup besar bagi pendapatan Limapuluh Kota. Namun, dari 23.838 hektar areal sawah di Limapuluh Kota hanya 16.275 yang merupakan sawah irigasi. Masih ada 7.113 hektar atau 31.73 persen dari seluruh areal sawah yang masih menggantungkan nasib dari curuh hujan.

Kemudian lahan produktif Limapuluh Kota memiliki 281.951 hektar. Yang terpakai hanya 55.663 hektar atau 19.74 persen dari keseluruhan lahan. Bukti, pertanian belum mendapatkan perhatian penuh dari Pemkab Limapuluh Kota.

Nurkhalis berkeinginan lebih dari 15 persen APBD Limapuluh Kota bisa dilimpahkan pada sektor pertanian. Dengan mendatangkan alat-alat pertanian modern dan membangun infrastrukur fisik maupun lembaga yang terorganisir untuk petani. Kelak, hal ini bisa memberdayakan petani secara cerdas dan rapi. Termasuk membantu petani-petani yang tersangkut sengketa lahan dengan para pengusaha dalam memperjuangkan hak-hak mereka.

“Tiga hal ini yang belum ada. Langkah untuk memodernisasi alat-alat pertanian, rumah atau organisasi yang handal untuk para petani dan bantuan hukum. Jika tiga hal ini belum juga ada di Limapuluh Kota, bisa dipastikan kehidupan petani di sini akan terus seperti siput berjalan,” ucapnya.

Walaupun tidak menampik dirinya siap untuk maju dalam pertarungan Pilkada Serentak Kabupaten Limapuluh Kota tahun 2020, hal tersebut semata-mata hanya untuk petani. Ia ingin mengambil tempat yang baru untuk bisa memperjuangkan petani. Selama menjadi aktivis bagi para petani, masih ada yang kurang yaitu kekuatan penguasa.

“Saya maju pada Pilkada Limapuluh Kota besok untuk petani. Selama ini saya selalu berada di garis depan untuk memperjuangkan petani. Jikalau benar bisa menang, Insya Allah, solusi yang selama ini ada dalam benak saya bisa segera terealisasi. Karena memiliki power penguasa,” jelasnya. (Agg/FS)

LEAVE A REPLY