Beranda OPINI Tahun Baru Kelabu

Tahun Baru Kelabu

70
0
BERBAGI

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud)”

Tahun baru Masehi tinggal beberapa hari lagi. Perayaan tahun baru menjadi rutinitas masyarakat umum tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia dan bahkan di negeri-negeri muslim lainnya.

Namun, sesungguhnya umat Islam sudah tertipu dengan masalah tahun baru. Terompet dan topi kerucut erat kaitannya dengan budaya pagan atau budaya kafir.

Kita tidak akan mau dimasukkan ke dalam golongan mereka, seperti hadis di atas. Sebagai umat Islam kita harus mengetahui sejarah tahun baru 1 Januari, terompet dan topi kerucut, agar kita tidak terjebak di dalamnya.

Jika kita buka “The World Book Encyclopedia” tahun 1984, volume 14, halaman 237 tentang tahun baru, dikatakan:

“Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah, sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu.”

Siapa sosok Dewa Janus itu? Dalam mitologi Romawi Dewa Janus adalah sesembahan kaum pagan Romawi, dan pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yang sama bernama Dewa Chronos. Kaum pagan, atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir penyembah berhala, hingga kini biasa memasukkan budaya mereka ke dalam budaya kaum lainnya, sehingga terkadang tanpa sadar kita mengikuti mereka.

Kaum pagan sendiri biasa merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, dan bernyanyi bersama. Kaum pagan di beberapa tempat di Eropa juga menandainya dengan memukul lonceng atau meniup terompet.

Masyarakat pagan kuno mempercayai tiap 2150 tahun akan terjadi perubahan era. Era Taurus terjadi pada 3400 SM. Era Taurus disimbolkan dengan kerbau/sapi, menurut Bibel-Perjanjian Lama di tahun inilah terjadi penyembahan kerbau/sapu oleh umat Nabi Musa as.

Dan masa penyembahan tersebut berakhir ketika memasuki masa era Aries 2150 SM hingga 1 Masehi. Aries disimbolkan dengan seekor domba dengan tanduk melintir. Karena itulah hingga saat ini umat Yahudi ortodoks memelihara kuncir di samping telinga yang menyerupai tanduk melintir dan mereka juga menggunakan terompet berbentuk tanduk domba.

Sedangkan topi kerucut mempunyai sejarah bermula pada masa muslim Andalusia. Saat itu terjadi pembantaian kaum muslim Andalusia yang dilakukan oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela yang dikenal dengan peristiwa Inkuisisi Spanyol.

Inkuisisi dimulai semenjak tahun 1492 dengan dikeluarkannya Dekrit Alhambra yang mengharuskan semua non-Kristen untuk keluar dari Spanyol atau memeluk Kristen. Muslim yang memilih tetap tinggal dilumpuhkan secara ekonomi dan diisolasi dalam kampung-kampung tertutup yang disebut Gheto untuk memudahkan pengawasan terhadap aktivitas kaum muslim.

Tidak cukup hanya diisolasi, tapi muslim Andalusia harus menggunakan pakaian khusus berupa rompi dan topi kerucut yang disebut sanbenito. Ketika orang Barat menggunakan topi ini dalam pesta-pesta mereka, sejatinya mereka merayakan kemenangan atas jatuhnya muslim Andalusia dan keberhasilan Inkuisisi Spanyol. Masa demi masa berlalu topi kerucut ini kemudian menjadi budaya yang digunakan oleh umat Islam dalam merayakan tahun baru masehi dan ulang tahun.

Masihkah mau merayakan tahun baru?
Sejatinya, Tahun baru masehi yang diperingati setiap tanggal 1 Januari itu merupakan budaya paganisme, kaum muslim harus jeli, tidak boleh mudah tertipu.
Wallahu a’lam bishshawab.[]

Oleh : Yanyan Supiyanti, A.Md
Pendidik Generasi, Member Akademi Menulis Kreatif

LEAVE A REPLY