Beranda BERITA TERBARU WABUP DAN DPRD LIMAPULUH KOTA MEMANAS PASCA SENTILAN APBD PERUBAHAN

WABUP DAN DPRD LIMAPULUH KOTA MEMANAS PASCA SENTILAN APBD PERUBAHAN

215
0
BERBAGI

LIMAPULUH KOTA –maklumatnews.net- Hubungan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan memanas dengan DPRD setempat. Hal ini dikarenakan sindiran Ferizal yang dianggap tidak tepat oleh Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, Deni Asra saat Sidang Paripurna Pengambilan Sumpah Dua Wakil Pimpinan DPRD Limapuluh Kota, Jumat (4/10/2019) silam. Kedua pejabat inipun beralas pantun.

Ferizal yang awalnya menyindir ratusan ASN Pemkab Limapuluh Kota beramai-ramai melakukan perjalanan dinas luar daerah secara massa, Jumat (4/10/2019) juga menyindir DPRD yang juga akan melakukan perjalanan dinas sehari kemudian, Sabtu (5/10/2019).

Kemudian menyebutkan fenomena perjalanan dinas secara massal para ASN dan anggota DPRD dikarenakan adanya kenaikan anggaran perjalanan dinas luar daerah di dua instansi ini pada APBD Perubahan yang ketok palu beberapa hari yang sebelumnya. Sindiran Wabup pun berujung pada adanya indikasi perselingkuhan antara politikus dengan birokrat dalam penyusunan hingga pengesahan APBD Perubahan.

“Jelas fenomena ini sungguh sangat luar biasa dan luar dari biasanya. Akibat melahirkan APBD Perubahan yang hanya membutuhkan waktu enam hari, ada hikmah dan berkah dirasakan. Kami (Pemkab Limapuluh Kota-red) bisa langsung merasakan hikmahnya. Ini dibuktikan dengan ratusan ASN yang melakukan perjalanan dinas luar daerah secara massal. Akhirnya, kantor-kantor kami sepi dari pelayanan. Besok, Sabtu (5/10/2019) hal serupa juga disusul oleh seluruh anggota dewan,” sindir Wabup saat menyampaikan kata sambutannya, Jumat (4/10/2019).

Adanya perselingkuhan antara politikus dan birokrat yang dimaksud Ferizal adanya hal yang janggal dalam lahirnya APBD Perubahan 2019 ini. Pasalnya perencanaan, penyusunan, pembahasan hingga pengesahan hanya butuh enam hari. Ditambah lagi dalam satu hari, ada tiga kali sidang paripurna pembahasan APBD Perubahan dan ada yang tanpa dihadiri kepala daerah.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota beraksi. Ia menyebutkan sindiran Wabup salah alamat jika mengkait-kaitkan instans DPRD dalam perjalanan dinas luas ratusan ASN ini.

“Tidak ada hubungan perjalanan dinas DPRD dengan perjalanan dinas ratusan ASN secara massal kemarin. Wabup salah alamat dan salah dalam menunjuk objek,” ujar Deni Asra kepada wartawan.

Disebutkan Deni, perjalanan dinas DPRD ini juga tidak ada kaitannya dengan APBD Perubahan. Pasalnya, pembiayaan perjalanan dinas DPRD keluar daerah dibiayai oleh APBD induk, bukan APBD Perubahan dan merupakan perjalanan dinas luar pertama sejak dilantik dua bulan yang lalu.

“Kemudian hubungan dengan APBD Perubahan juga tidak ada. Perjalanan dinas luar kami (DPRD-red) saat ini dibiayai oleh APBD induk, bukan dari APBD Perubahan. Lagipula, proses APBD Perubahan tengah dievaluasi oleh gubernur dan akhir Oktober 2019 ini diterima hasil evaluasinya,” ucapnya.

Deni menyayangkan sindiran Wabup ini ditakutkan bisa berdampak kepada berkurangnya kekuatan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Limapuluh Kota. Diharapkannya, bisa saling bersinergi bersama untuk saling bahu membahu.

“Akan lebih baik kita semua duduk bersama. Selesaikan persoalan Limapuluh Kota satu persatu. Di tubuh Pemkab banyak persoalan yang rumit dan belum terselesaikan. Nanti kami akan menjadwalkan untuk memanggil Wabup kenapa beliau seperti itu,” tambahnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Bupati Limapuluh Kota mengaku siap dan dan sudah lama menunggu untuk dipanggil oleh DPRD Limapuluh Kota. Baginya, sindiran kemarin tidak satupun yang salah.

“Saya siap dipanggil kapanpun dan mendukung DPRD menggunakan hak-haknya dalam bertanya kepada kepala daerah dan eksekutif. Malah saya sangat senang jika dipanggil. Nanti saya ingin sidang pemanggilan ini terbuka untuk umum. Kalau perlu disiarkan di radio dan ada layar lebar. Yang salah bukan sindiran saya. Tetapi ada yang salah di Pemkab dan DPRD Limapuluh Kota,” Kata Ferizal.

Ferizal mengibaratkan ada darah yang tengah tersumbat di urat nadi. Aturan dan program yang harusnya berjalan sebagaimana mestinya tidak terealisasi dengan baik karena kerap dianggap remeh. APBD Perubahan hanya salah satu dari sekian banyak persoalan yang tersumbat tersebut.

“APBD Perubahan hanya salah satu contoh dari sekian yang banyak. Saya sindir saja sekali didepan forum, sudah banyak yang kelabakan. Berarti memang ada yang salah di tubuh Pemkab dan DPRD Limapuluh Kota,” ulasnya.

Dicontohkan Ferizal, dalam renovasi pembangunan mesjid di lingkungan Kantor Bupati sudah ada anggaran di Sekretariat Daerah. Namun, pembangunan tetap dijalankan menggunakan dana infak jemaah. Bahkan sekarang, mesjid harus berhutang pada pihak ketiga. Sedangkan uang yang dianggarkan untuk mesjid sekarang telah dialihkan menjadi perjalanan dinas luar daerah dalam APBD Perubahan.

“Saya dengan senang hati dipanggil oleh DPRD. Saya tunggu kapan waktunya. Mari kita duduk bersama untuk menyelesaikan segala persoalan di Limapuluh Kota. Tapi harus pertemuan secara terbuka, Itupun jika DPRD berani,” pungkas.

Ferizal juga memberikan keterangan hal hal lain terkait perselingkuhan itu yang diantaranya, masalah pokir miliaran rupiah yang tidak berlandaskan pada visi dan misi daerah. Alhasil, hasi pokir anggota dewan tidak bersinggungan dengan program daerah.
Kemudian sikap diam DPRD jikalau Bupati berhalangan hadir dalam sidang paripurna digantikan oleh Sekda atau Asisten. Padahal, Wakil Bupati berada di tempat (kantor-red). Serta beberapa tahun terakhir, Wakil Pimpinan DPRD dipaksakan menjadi Forkopinda dan dari tahun ke tahun, anggaran DPRD terus beranjak naik. (FS/Agg)

LEAVE A REPLY