Beranda BERITA TERBARU Desa di Bekasi Ini Nyaris “Ditelan” Laut

Desa di Bekasi Ini Nyaris “Ditelan” Laut

289
0
BERBAGI

BEKASI-maklumatnews.net-  Sebuah desa yang berada di pinggir pantai Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat semakin menyusut luas permukaan wilayahnya. Desa Pantai Bahagia mengalami kenaikan permukaan air laut atau abrasi, sehingga menelan sejumlah wilayah pantai tersebut.

“Ya di rumah sih nggak tahu berapa hari, selamanya saja banjir, ya. Waktu kering kita beres-beres sisa banjir beresin belokannya (becek lumpur) itu, kalau banjir kan belok (becek lumpur) sampah, jadi ya beberes waktu kering. Tak ada redanya lah,” kata warga sekitar, Rabu (16/8/2017).

 Pria 68 tahun ini sudah tinggal di Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia Muara Gembong, Bekasi selama 35 tahun. Dia mengaku terpaksa harus tinggal di sana.

“Ya mau pindah juga butuh biaya, kita rumah seperti ini, ya sudah tak punya, bagaimana ya. Harapannya barangkali ada yang membantu supaya terhindar dari sini,” jelas Salam.

Abrasi tersebut juga menggerus 1,7 hektar lahan pantai di Kampung Beting selama tujuh tahun terakhir. Di desa itu tampak puluhan rumah penduduk yang hancur diterjang rob dan ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

Di kampung ini, banyak rumah yang ditelantarkan, bahkan hanya menyisakan pondasi. Rumah yang masih ditinggali tampak sudah ditinggikan lantainya, sehingga jarak langit-langit rumah dengan lantainya sangat rendah, seperti rumah Wawan.

“Sudah tiga kali ditinggikan. Bahkan kalau digali dasarnya sudah tinggi sekali. Makanya antara atas dan bawah ini pendek. Dulu rumah ini paling tinggi di sini sekarang paling pendek,” kata Wawan.

Beberapa bagian rumah Wawan pun tampak hancur dan keropos karena terus menerus terendam air laut yang mengandung garam.

Untuk mencegah abrasi, sejumlah warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata Alifbata menanam pohon bakau atau mangrove di pinggir pantai sejak 2013.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Alifbata Sonhaji mengatakan, pihaknya menanam sekitar 200.000 pohon mangrove secara mandiri.

“Kita melakukannya dengan memanfaatkan bibit yang berasal dari tanaman mangrove yang ada di sini, dengan dibantu oleh teman-teman dari berbagai komunitas, korporasi dan universitas. Ke depannya kami masih banyak PR karena memang banyak lahan yang sudah habis akibat abrasi itu sendiri,” kata Sonhaji.

Setelah pohon mangrove mulai meninggi, manfaatnya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat.

“Dampak yang bisa dirasakan langsung dari masyarakat dengan adanya penanaman bakau ini banyak sekali, terutama warga masyarakat yang rumahnya tiap bulan selalu terendam genangan air, bahkan di mangrove sendiri itu tempat bertelurnya ikan dan udang dan jadi nilai ekonomi sendiri untuk masyarakat,” pungkasnya.

okezone

(fmi)

LEAVE A REPLY