Beranda BERITA TERBARU DIDUGA KELALAIAN MEDIS, KEPALA BAYI BARU LAHIR DI DHARMASRAYA DAPAT ENAM JAHITAN

DIDUGA KELALAIAN MEDIS, KEPALA BAYI BARU LAHIR DI DHARMASRAYA DAPAT ENAM JAHITAN

653
0
BERBAGI

Dharmasraya -maklumatnews.net– Pasangan suami-istri Dodi Apriadi dan Mulyani, warga Kenagarian Koto Padang, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya terpaksa merelakan kepala anaknya yang baru saja lahir, Paren Nurdiansyah Radita dapat enam jahitan. Diduga saat persalinan di RSUD Sungai Dareh, terjadi kelalaian oleh tim medis yang membuat kepala Paren robek.

Informasi yang dihimpun media, persalinan berlangsung tanggal 11 Januari 2020 dini hari silam. Saat persalinan, sayatan untuk membuang air ketuban di kantong rahim diduga terlalu dalam dan mengenai kepala Paren. Hal ini mengakibat mengakibatkan kepala Paren robek sepanjang 5 cm. Mendapati hal tersebut, tim medis langsung melakukan pertolongan pertama dengan menjahit kepala Paren sebanyak enam jahitan.

Walaupun sudah dilakukan tindakan medis, orang tua Paren mengaku tidak terima dengan kejadian ini. Pasalnya, selepas pulang dari rumah sakit, kondisi anaknya memburuk. Hal ini ditandai sering kali Paren menangis dan rewel, tidak seperti bayi biasanya.

“Kalau anak baru lahir itu menangis dan rewel, memang sudah hal yang lumrah. Tapi anak saya ini, nangis, rewel dan panas badannya terlalu berlebihan. Setiap sebentar nangis dan memekik seperti kesakitan. Ini sepertinya kondisi anak saya terus memburuk selepas pulang dari RSUD Sungai Dareh,” sebut ayah Paren, Dodi Apriadi kepada media, Jumat (7/2/2020)

Cemas akan kondisi anaknya, Dodi pun mencoba membawa anaknya berobat ke bidan desa setempat. Disana diberikan obat beberapa obat, termasuk obat penurun panas untuk bayi. Namun kondisi Paren tidak kunjung berubah.

“Sudah dibawa berobat ke bidan desa. Tapi tidak ada perkembangan. Ditambah lagi setelah kami pulang dari RSUD Sungai Dareh, pihak rumah sakit juga tidak pernah memantau kondisi anak kami. Seakan mereka lepas tangan,” sebutnya.

Keluhan Dodi dan kondisi anaknya ini pun menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat Koto Baru. Sampai akhirnya terdengar oleh beberapa orang pengacara lokal. Kemudian meminta Dodi dan Mulyani untuk bersedia dibimbing melalui proses hukum untuk mendapatkan haknya dari pihak RSUD Sungai Dareh.

Kuasa Hukum kelurga Paren, Tibrani SH menuturkan pihaknya saat ini telah melayangkan somasi kepada pihak rumah sakit untuk bertanggung jawab. Yang paling disayangkan oleh Tibrani adalah lepas tangan rumah sakit kepada keluarga Paren. Ditambah lagi adanya upaya pembodohan kepada Dodi dan Mulyani agar dikemudian hari tidak menuntut rumah sakit.

“Yang paling kami sayangkan itu adalah cara rumah sakit untuk bisa lepas tangan. Saat bayi akan dibawa pulang, orang tuanya diberikan sebuah surat pernyataan untuk tidak menuntut di kemudian. Tanpa membacakan isi surat. Padahal orang tua Paren itu buta huruf alias tidak bisa membaca. Mereka hanya mengarahkan orang tuanya untuk menandatangani surat ini. Tidak membacakan secara terang apa isi surat tersebut. Ini khan namanya pembodohan kepada orang tua Paren,” sebut Tibrani.

Sampai hari ini, disebutkan Tibrani antara pihak rumah sakit dan keluarga korban telah ada pembicaraan untuk jalur damai. Namun, hal tersebut belum terealisasi karena sesuai kesepakatan, Paren dan Ibunya harus dilakukan Medical Check up secara keseluruhan pada Senin (10/2/2020) mendatang.

“Jadi apakah damai atau tidak, Senin besok keputusannya. Paren dan ibunya di Check up dulu secara menyeluruh. Apalagi sekarang di sekitar luka kepala Paren terjadi pembengkakan,” ucap Tibrani.

Sementara itu, Kabid Pelayanan RSUD Sungai Dareh Milana Gafar mengatakan pihaknya siap bertanggung jawab atas dugaan kelalaian tim medis saat persalinan Paren.

“Persoalan ini sudah menjadi catatan penting kami dan siap untuk difasilitasi sebagai rasa tanggung jawab kami dari Rumah Sakit,” kata Milana ketika di konfirmasi media melalui seluler.

Disebutkannya, kejadian robeknya kepala Paren ini dikarenakan saat persalinan Mulyani (Ibu Paren-red) melakukan gerakan reflek saat tim medis ingin memecahkan ketuban. Akibatnya alat medis yang tengah dipegang petugas mencukam lebih dalam dan mengenai kepala Paren.

“Saat melakukan tindakan medis untuk memecahkan ketuban si ibu, tim medis menggunakan alat medis yang tajam. Bersamaan, si ibu melakukan gerakan reflek. Jadinya alat medis kami yang sedang dipegang petugas mengenai kepala bayi. Itu yang membuat kepala si bayi robek,” sebut Milana.

Mencegah hal yang tidak diinginkan, tim medis langsung memberikan pertolongan pertama kepada Paren dengan menjahit kepala dan memberikan beberapa obat. Sedangkan untuk Mulyani dilakukan tindakan medis lanjutan hingga selesai.

“Jadi kami lakukan pertolongan pertama dan menyelesaikan persalinan. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan kepada si bayi dan ibunya,” ucap Milana. (FS/Agg)

LEAVE A REPLY