Beranda BERITA TERBARU Gaza yang (masih) Terjajah

Gaza yang (masih) Terjajah

394
0
BERBAGI

Maklumatnews.net,-Gaza kembali bergolak, serangan terus berulang oleh pihak Israel ke wilayah Gaza. Kesewenang-wenangan Israel atas Palestina terus berlanjut. Israel tidak hanya melakukan penjajahan, tapi juga melakukan pengusiran, pembunuhan dan pembantaian terhadap warga pribumi Palestina. Berbagai upaya telah ditempuh untuk menghentikan kesewenang-wenangan Israel atas Palestina. Namun, tidak jua bisa menghentikan kesewenangan Israel.

Dilansir oleh suara.com, pada tanggal 15 November 2019, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengutuk serangan udara yang dilakukan Israel ke jalur Gaza. Penyerangan itu diketahui menimbulkan korban jiwa. Ma’ruf mengatakan bahwa konflik Israel-Palestina tersebut harus selesai secara tuntas. Pasalnya, permasalahan tersebut terus bergulir dan korban jiwa pun tidak dapat dihindarkan.

Untuk penyelesaian, Ma’ruf mengungkapkan sebaiknya sejumlah pihak yang terlibat mencari solusi atau two state solution. Two state solution merupakan cara penyelesaian konflik yang sudah disepakati oleh komunitas internasional melalui resolusi Majelis Ulama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Nomor 194.

Selain itu, Ma’ruf juga menekankan adanya kesepakatan di Palestina sendiri yang terbagi menjadi Hamas dan Fatah, dua kelompok partai di Palestina yang kerap bertikai. Menurutnya, mesti ada perdamaian di antara kedua kelompok tersebut sehingga Palestina memiliki satu gerakan yang kuat untuk menyelesaikan konflik dengan Israel. Kedua cara tersebut disebutkan Ma’ruf akan ikut didorong oleh Indonesia agar konflik Israel-Palestina segera berakhir.

Palestina negeri yang terjajah secara legal oleh Israel, karena dunia membiarkannya, bahkan mendukung penjajahan itu sendiri. Atas arahan Amerika, mengeluarkan solusi Palestina-Israel dengan konsep “two state”, solusi yang dianggap memberi kemerdekaan kepada Palestina dengan syarat berbagi wilayah dengan Israel sang penjajah.

Masalah utama Palestina adalah adanya Israel, bukan batas wilayahnya. Karena itu, solusinya seharusnya bagaimana melenyapkan Israel.

Upaya menghentikan kesewenang-wenangan Israel terus dilakukan, dimulai dengan perjanjian Camp David, Way River, Oslo, Sharm Syaikh, sampai sekarang Istanbul, itu semua tidak memberi solusi bagi Palestina.

Palestina adalah tanah kaum muslimin, tanah kharajiyah (tanah yang diperoleh dengan peperangan). Sehingga sikap yang harus dimiliki kaum muslimin adalah merebut kembali tanah Palestina dengan jihad.

Kepemimpinan Islam yang bisa menjadi pelindung kaum muslimin di Palestina dan dunia. Kepemimpinan Islam lah yang bisa membersihkan Palestina dari Israel dan mengusir mereka dari tanah yang diberkati.

Kini kepemimpinan Islam tidak ada setelah keruntuhannya di Istanbul Turki pada 3 Maret 1924. Masalah Palestina ini hanya salah satu dari masalah besar kaum muslimin yang diakibatkan oleh ketiadaan kepemimpinan Islam. Menurut Imam Ghazali, kekuasaan dan agama adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan para ulama menyebut ketiadaan kepemimpinan Islam sebagai pangkal segala kejahatan dan kerusakan. Ketiadaan kepemimpinan Islam merupakan permasalahan utama kaum muslimin kini.

Untuk itu, sebagai seorang muslim sudah tentu wajib memperjuangkan tegaknya kembali institusi pelindung umat di seluruh dunia ini. Jika kita tidak ikut berjuang dan hanya berdiam diri terhadap permasalahan yang memimpa kaum muslimin khususnya masalah Palestina ini. Ingatlah, bahwa kita tetap akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah kita lakukan.

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain dan tidak boleh menzalimi muslim yang lain dan tidak boleh menyerahkan dirinya kepada musuh. Dan siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya niscaya Allah memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang meringankan kesulitan seorang muslim niscaya Allah meringankan dari dia satu kesulitan di antara banyak kesulitan pada hari kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang muslim niscaya Allah menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Wallahu a’lam bishshawab

Oleh : Yanyan Supiyanti, A.Md
Pendidik Generasi, Member Akademi Menulis Kreatif

LEAVE A REPLY