Beranda BERITA TERBARU Ibu dan Generasi, Bersama Wujudkan Hidup Mulia di Era Milenial

Ibu dan Generasi, Bersama Wujudkan Hidup Mulia di Era Milenial

597
0
BERBAGI

www.maklumatnews.net, Di penghujung tahun 2019 ini, dimana dikenal sebagai era milenia, kita dapati demikian banyak kasus miris yang terjadi pada diri umat. Wa bil khusus pada kaum wanita dan anak-anak generasi penerus peradaban. Mulai dari pemberitaan tentang bayi yang menemani jasad ayahnya selama tiga hari. Sementara ibu sang bayi bekerja sebagai TKW di Taiwan. (tribunnews.com, 15/8/2019)

Tak kalah mirisnya, betapa kaum wanita yang semestinya memiliki peran utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, justru didorong demikian masif masuk ke ranah pekerjaan. Bahkan kini dominasi kaum wanita sebagai buruh pabrik telah menjadi sesuatu yang tak asing lagi.

Lebih mengenaskan ketika kaum hawa dan anak-anak terperangkap menjadi korban trafficking, seks bebas dan pemerkosaan. Bahkan atas nama memunculkan kecantikan, para wanita telah dieksploitasi dalam berbagai ajang berbasis kecantikan fisik yang fana.

Potret generasi remaja pun tak kalah mengerikannya. Mereka diserbu dengan masalah-masalah tanpa ujung. Mulai dari kasus pergaulan bebas, narkoba, LGBT yang kian meningkat, stressing di kalangan remaja yang berujung pada kasus bunuh diri, kecanduan game serta gadget, dan seterusnya.

Liberalisme, Akar Masalah yang Wajib Dienyahkan

Bermunculannya permasalahan yang deras menimpa kaum wanita dan generasi muda, memunculkan beragam analisa dari berbagai pihak. Terkait akar permasalahannya dan apa yang bisa dijadikan solusinya.

Sebagian pihak menuding permasalahan itu disebabkan pihak wanita dan anak adalah mereka yang secara materi lemah. Maka dibuatlah upaya-upaya yang mengarahkan wanita untuk mandiri dari sisi finansial. Di sisi lain ada yang memandang bahwa suara kaum hawa akan banyak terdongkrak jika aspirasinya dibawa oleh sesamanya. Hingga dibuatlah kebijakan terkait keterwakilan wanita sebanyak 30 persen di parlemen. Nyatanya beragam solusi telah diuraikan dan dilakukan. Alih-alih menyolusikan, yang terjadi justru problematika makin menggurita dan hampir tak bisa diketahui ujung pangkalnya.

Jika mau lebih mendalam dalam melihat permasalahan ini, sesungguhnya kita akan dapati bahwa penyebab utamanya karena penerapan sistem hidup yang salah yakni sekuler-kapitalis. Hal ini mengakibatkan terkikisnya rasa takut setiap individu kepada Sang Khaliq al-Mudabbir. Lebih jauh bahwa di dalam sistem ini terdapat pilar kebebasan (liberalisme) yang mendorong individu-individunya tak menghendaki untuk diatur oleh pranata agama.

Kurangnya kontrol dari orang-orang terdekat tersebab pemikiran kufur individualis, semakin masifnya saluran-saluran media sekuler kian menjauhkan wanita dan generasi dari agama.

Selain itu, sistem ekonomi kapitalis mengondisikan wanita harus ikut serta dalam dunia kerja. Mereka beranggapan wanita yang tidak bekerja dianggap tidak produktif dan mulia secara materi keduniaan. Hal ini menjadikan wanita kehilangan fitrah dan waktunya sebagai ibu. Kemuliaan mereka pun tergadai. Lebih lanjut akan berefek pada hancurnya generasi. Liberalisme benar-benar telah mengancam ibu dan generasi ke arah keburukan kondisi seperti yang terjadi saat ini.

Kondisi ini terus berlangsung setiap tahun. Tentu harus diputus rantai lingkaran setannya. Dibutuhkan peran serta individu, masyarakat dan negara. Semua komponen berpadu agar dapat keluar dari problematika kehidupan yang tak berkesudahan.

Resolusi dan Harapan di Tahun 2020

Harus ada resolusi bersama sebagai kaum wanita yang akan mencetak generasi yang diridhai kehidupannya oleh Allah Swt. Agar kondisi-kondisi buruk sebelumnya tidak terjadi lagi di masa mendatang. Di antara upaya yang harus dilakukan agar harapan tercapai adalah:

Pertama, memunculkan kesadaran bersama dengan meningkatkan ketakwaan individu dan kontrol masyarakat. Yang akan mendukung perbaikan wanita dan generasi untuk kembali pada fitrahnya.

Kedua, membentuk peradaban gemilang dengan mencetak generasi istimewa oleh ibu yang luar biasa. Ibu luar biasa adalah mereka yang berkepribadian Islam dan mendidik anak-anaknya dengan tuntunan Rasulullah saw.

Ketiga, mengajak peran serta para Ibu (berdakwah) sebagai individu, hamba Allah dan sebagai bagian dari masyarakat yaitu ibu generasi (ummu ajyal). Mereka wajib punya kesadaran untuk berperan serta dalam membangun peradaban Islam.

Keempat, dibutuhkan peran negara yang akan secara revolusioner memfasilitasi setiap upaya ke arah terbentuknya generasi shalih/shalihah.

Maka yang wajib kita lakukan saat ini adalah bersatu padu bersama seluruh komponen umat. Merapatkan barisan untuk berjuang membentuk generasi unggul penerus peradaban. Karena sesungguhnya, di pundak kitalah salah satu komponen pendukung cemerlangnya peradaban masa depan berasal. Niscaya kemuliaan pun akan kita raih.

الأم مدرسة إذا أعددتَها
أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق

Artinya: “Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.” (Syair yang dinukil oleh Syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab Mar-ati fiil Islam hal. 5)
Wallahu a’lam bi ash-shawab

Oleh : Yuliyati Sambas, SPt.
Pegiat literasi di Komunitas Penulis Bela Islam AMK

LEAVE A REPLY