Beranda BERITA TERBARU Ipda Wardiati, Polwan Cantik dengan Segudang Prestasi

Ipda Wardiati, Polwan Cantik dengan Segudang Prestasi

537
0
BERBAGI
MEDAN-(MAKLUMATNEWS.NET) – Sosok Inspektur Polisi Dua (Ipda) Wardiati yang kini menjabat sebagai Perwira Unit (Panit) SIM di Satlantas Polresta Medan ini patut jadi teladan. Sebab, dia pernah mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional dengan meraih medali emas pada kompetisi judo di China pada tahun 2002.

Jika diperhatikan sepintas, banyak yang tidak menyangka istri dari Wakil Direktur (Wadir) Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Wadir-Reskrimum) Polda Gorontalo Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Iwan Ekaputra ini seorang atlet berprestasi.

Sebab, perawakannya tergolong sederhana, polos, dan biasa saja. Namun, di balik kepolosan itu, polwan cantik angkatan 1997 ini menyimpan segudang prestasi yang membanggakan.

Karena pengalaman dan kesuksesan itu, kini Wardiati dipercaya menjadi pelatih judo di Sumatera Utara, khususnya di jajaran Polda Sumut.

“Aku tidak menyangka, usaha dan kerja kerasku sejak duduk di kelas tiga Sekolah Dasar (SD) mampu berkompetisi di kancah internasional. Ternyata, jika ada niat, kerja keras yang kuat pasti akan membuahkan hasil,” kata dia kepada KORAN SINDO di Polda Sumut.

Meski tak lagi muda, anak kedua dari tiga bersaudara ini masih mampu berkompetisi di tingkat nasional.

Buktinya, pada Kompetisi Judo Piala Kapolri yang diselenggarakan di Medan pada awal Agustus lalu, asli Sulawesi yang lahir pada 7 Februari 1978 ini menjadi juara favorit setelah menerima medali emas dari Kepala Sekolah Kepolisian Nasional (SPN) Sampali, Medan.

“Aku sudah tidak muda lagi, tenaga dan kemampuanku tidak lagi seperti dulu. Namun begitu, aku masih mampu meraih medali emas pada Kompetisi Judo Piala Kapolri yang diselenggarakan di Medan, beberapa waktu lalu. Padahal, usia ideal bagi seorang atlet itu maksimal 28 tahun. Ternyata aku masih mampu berkompetisi,” ujarnya.

Menurut dia, sebelum meraih kesuksesan, banyak hal yang harus dilakukan. Salah satunya, membagi waktu antara belajar di sekolah, latihan, dan kompetisi.

“Yang paling sulit itu membagi waktu, terkadang aku menangis karena harus meninggalkan proses belajar di sekolah agar bisa mengikuti latihan dan bertanding. Bahkan, aku harus siap meninggalkan keluarga selama berbulan-bulan,” sebut ibu tiga anak ini.

 

 
SUMBER SINDONEWS
(nag)

LEAVE A REPLY