Beranda BERITA TERBARU KEPALA SMA SE KABUPATEN SOLOK MENGADU KE DPRD SUMBAR

KEPALA SMA SE KABUPATEN SOLOK MENGADU KE DPRD SUMBAR

320
0
BERBAGI

PADANG-maklumatnews.net–Sejumlah Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) se Kabupaten Solok mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat, Selasa (7/2). Pengaduan itu terkait beberapa permasalahan sebagai dampak dari pengalihan kewenangan pengelolaan SMA dan SMK ke Pemerintah Provinsi.

Diterima Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Barat, para kepala sekolah mengaku persoalan terutama muncul karena adanya mutasi, rotasi dan promosi jabatan kepala sekolah. Kepala daerah di kabupaten tersebut (Solok) melakukan mutasi, rotasi dan promosi jabatan kepala sekolah, meskipun ada Surat Edaran Mendagri yang meminta kepala daerah tidak melakukan mutasi, rotasi dan promosi jabatan kepala sekolah pada masa transisi.

Marlis, Kepala SMAN 1 Gunung Talang mengungkapkan, dari 19 Kepala SMAN di Solok, sebanyak 10 orang diberhentikan. Kemudian, ada dua orang kepsek yang tetap sementara 17 orang termasuk pengganti yang diberhentikan merupakan mutasi, rotasi dan promosi.

“Ini (mutasi, rotasi dan promosi) dilakukan oleh Bupati pada 2016, sedangkan pengalihan kewenangan efektif berlaku mulai Januari 2017,” katanya.

Persoalan yang muncul, katanya, saat ini ada kepala sekolah yang tidak mau dipindahkan. Kemudian datang kepala sekolah baru yang diangkat berdasarkan SK Bupati. Ada lagi kepala sekolah yang mau dipindahkan, tetapi kepala sekolah yang lama tidak mau melepas.

“Sehingga ada sekolah yang seolah terjadi dualisme kepemimpinan membuat suasana kerja tidak nyaman,” ujarnya.

Marlis mewakili kepala sekolah yang lain menegaskan, persoalan ini bukan soal jabatan. Namun, yang paling mendasar adalah karena siswa akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Banyak hal yang harus dilakukan, terutama persiapan menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

“Bagi kami bukan persoalan jabatan, tetapi kita tengah mempersiapkan siswa menghadapi UNBK. Berbagai fasilitas masih kekurangan. Kami lebih memikirkan anak-anak daripada jabatan namun kalau suasana kerja tidak nyaman bagaimana bisa bekerja maks

LEAVE A REPLY