Beranda BERITA TERBARU Kisah Nelangsa Penulis di Masa Uni Soviet

Kisah Nelangsa Penulis di Masa Uni Soviet

477
0
BERBAGI

EKSPRESI politik menentang penguasa Uni Soviet berlangsung sejak 1800-an. Tindakan propaganda lewat buku, seni, dan musik pun dilakukan. Namun semua itu tidak ada gunanya jika Persatuan Republik Sosialis Soviet (Bolshevik) melakukan penyensoran.

Akibat penyensoran karya sastra dan seni tersebut, banyak penulis dan seniman terpaksa turun ke bawah tanah untuk mempublikasikan karya mereka.

Setiap publikasi di Uni Soviet ditandai dengan kata “gosizdat,” yang berarti “diterbitkan oleh negara”, untuk meyakinkan pembaca bahwa materi mereka telah disetujui oleh negara.

Sementara itu, para penulis independen bawah tanah mengkategorikan karya mereka sebagai samizdat, yang artinya “diterbitkan sendiri”. Sementara untuk karya-karya selundupan, mereka menamainya tamizdat yang artinya “diterbitkan di sana”.

Karya-karya tidak hanya datang dari para seniman melainkan warga juga. Karya-karya itu ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti karya musik, tulisan politik, religi, novel, hingga puisi. Karya-karya seni dan sastra di bawah tanah itu selalu disortir agar sepemikiran.

Soal keamanan, mereka biasanya menyembunyikan karya-karya puisi di sepatu, tempat tidur, dan perabotan rumah tangga. Sementara untuk rekaman musik, ditranskripsikan ke film sinar-X yang lalu dijual di pasar gelap.

Biasanya, promosi dilakukan dengan gaya “rantai surat”, atau gaya yang membuat penerima pertama diberi tugas membuat beberapa salinan agar bisa menjualnya ke orang lain. Demikian seterusnya sehingga akan banyak salinan yang didistribusikan. Masalahnya, proses pembuatan salinan dengan tulisan tangan atau menggunakan kertas karbon berisiko menyebabkan perubahan yang tidak diketahui penulis asli.

Para seniman biasanya menjual karya yang tidak ditandatangani atau memakai nama pena saat menulis. Selain itu, mereka juga memanfaatkan mikrofilm untuk mengabadikan tulisannya. Lalu menyelundupkan mikrofilm itu ke luar Uni Soviet untuk dipublikasikan, dan hasilnya diselundupkan masuk kembali sehingga akan sulit dilacak. Novel “Doctor Zhivago” karya Boris Pasternak dipublikasikan di Italia dengan cara ini.

Untuk diketahui, pemerintah Uni Soviet memegang daftar mesin tik yang dimiliki masyarakatnya. Mereka juga memantau penjualan kertas. Dengan begitu, pemerintah bisa mengendalikan setiap tulisan yang terbit.

Sebuah kelompok yang disebut Acmeists pun muncul selama pemerintahan Bolshevik itu. Mereka, yang merupakan para penulis bawah tanah, mengecam penggunaan simbol hanya untuk karya-karya yang dinilai legal.

Osip Mandelstam, merupakan salah satu penyair lainnya yang memberontak. “Kamen” adalah karya pertamanya yang terbit pada 1913 dan membawanya meraih penghargaan dari penyair Rusia yang mapan.(Hotlas Mora Sinaga)

dilansir okezone

LEAVE A REPLY