Beranda BERITA TERBARU Mendikbud Hadiri Seminar SEMDIK FKIP Universitas Bung Hatta

Mendikbud Hadiri Seminar SEMDIK FKIP Universitas Bung Hatta

427
0
BERBAGI

MAKLUMATNEWS,NET

Padang (SUMBAR)— Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit mendampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP di acara   Seminar Nasional Pendidikan (Semdik) FKIP Universitas Bung Hatta di Hotel Mercure Padang, (24/09) tentang Profesi Guru dan Tantangan Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pada kesempatan ini Mendikbud menjadi keynote speaker yang dipandu oleh rektor UBH Nicky Lutviarman.

 

Acara ini dihadiri oleh Sekjen Kemendikbut RI, Kadis Pendikbud Sumatera Barat Burhasman, Pimpinan Muhammadyah Sumatera Barat Sofwan Karim, para guru dan mahasiswa calon guru.

 

Mendikbut Muhadjir Effendy mengatakan, “Presiden memberikan 3 fokus kepada saya sebagai menteri, yakni pada pendidikan vokasi, kartu indonesia pintar, revolusi mental, yang terfokus pada isu disparitas dan kesenjangan.

 

Kesenjangan dibidang pendidikan terbagi 3, yakni kesenjangan struktural yakni ketidaksanggupan untuk sekolah, kesenjangan cultural yakni budaya menganggap sekolah tidak penting, dan kesenjangan spasial karena tempat yang jauh dan terpencil.

 

Dekan Fakultas Ilmu Kegu­ruan dan Pendidikan Drs Khairul, M Sc berharap kegiatan ini hendaknya berjalan dengan sukses dan akan terus berlanjut ke depannya.

 

Ia mengatakan, menghadapi MEA ini, Sumber Daya Manusia (SDM) harus disiapkan, terutama kualitas siswa yang baik melalui guru yang baik untuk masa men­datang. Untuk terbentuknya SDM siswa secara baik maka semua diawali dari guru, karena yang melakukan per­baikan di sekolah adalah guru dan kepala sekolah.

 

“Sehingga guru diharapkan jangan sekedar duduk berpangku tangan namun harus berpikir bahwa ke depan persaingan semakin ketat. Oleh karena itu potensi yang ada pada guru harus dikembangkan jangan pernah puas dengan ilmu yang dimiliki sekarang, tetapi terus belajar dan terus kembangkan kompetensi demi untuk masa depan anak didik di sekolah,” ucap Khairul.

 

“Sudah sama-sama kita ketahui di akhir tahun 2015, MEA sudah diberlakukan oleh pemerintah, sehingga lebih banyak tenaga kerja asing. Mereka saling ber­kompetisi merebut lapangan kerja. Untuk itu sangat dibutuhkan komunikasi berbahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” tambah Khairul.(Gan)

 

LEAVE A REPLY