Beranda BERITA TERBARU Meski Bukan Kader Partai, Mereka Setia Bersama Demokrat

Meski Bukan Kader Partai, Mereka Setia Bersama Demokrat

660
0
BERBAGI

Payakumbuh -maklumatnews.net- Bila pesta demokrasi usai, alat peraga kampanye (APK) seperti baliho dan spanduk tentu ditertibkan dari tempatnya terpampang, karena tidak terpakai lagi. Tetapi, ada satu APK yang akan terus tampak di jalanan, yakni baju kaos peserta pemilihan umum, atau yang orang-orang kenal baju partai.

Biasanya, baju partai ini dipakai oleh petani, tukang, dan kuli angkut di pasar. Memang disaat peserta pemilu membagikannya saat berkampanye, secepat kilat baju kaos partai ini ludes. Kalau dilihat, baju kaos partai yang dibagikan para caleg ini harganya murah, tidak dari merek mahal, bahannya pun tidak dari sutra.

Bagi petani, mereka menyukai yang lengan panjang karena bisa mereka bawa ke sawah untuk terlindung dari teriknya mentari. Bagi tukang dan kuli, mereka memakai baju kaos partai dengan alasan nyaman saja memakainya, simpel.

Di kalangan netizen, di media sosial ada guyonan “belum bisa disebut kuli bila tak memakai kaos partai”.

Terlepas dari hal itu, tak bisa ditampik kalau eksistensi dari baju kaos partai ini memberikan nilai filosofis tersendiri bagi setiap orang, tergantung dari sudut pandangnya.

Media kemudian mewawancara salahsatu warga di Kota Payakumbuh di sebuah warung pada Sabtu (28/8), yang saat itu sedang memakai baju kaos bergambar salahsatu pasangan calon kepala daerah pada pilkada 2020 di Provinsi Sumatera Barat, Pasangan Mulyadi-Ali Mukhni yang maju dari Partai Demokrat.

Syafrianil (44) dengan balutan baju kaos berwarna biru putih berlengan panjang itu menyampaikan alasan masih memakai baju peserta pilkada itu kemana-mana sampai kini karena merasa masih ada bentuk tali silaturahmi dengan partai atau kandidat tersebut.

“Nampak jugalah hendaknya dia oleh orang-orang. Sosok dan perannya masih dianggap ada, jangan sampai hilang. Bagi pemilih setianya ini seperti ayam kehilangan induk. Sebagai bentuk keterbukaan diri kita terhadap demokrasi. Meski pak Mulyadi sudah tidak menjabat di DPR-RI karena jabatan dilepas saat maju sebagai calon Gubernur, dirinya masih ada di hati masyarakat. Dia masih ada warnanya, warnanya ini berbaur bersama kami masyarakat,” ungkapnya.

Ketika ditanya apakah Syafrianil kader partai? Dia mengaku malah bukan kader partai. Orang pun tidak bertanya kenapa memakai baju itu sementara orang tidak lagi berkampanye karena pesta demokrasi telah usai. Dia menyebut beda pilihan politik tidak jadi pertentangan, nilai luhur dari Pancasila melekat di jiwa setiap orang Indonesia.

“Baju ini enak dipakai, nyaman rasanya, bahkan ada yang sampai memakainya bertahun-tahun, bukankah terlihat seperti kampanye gratis? Sementara masyarakat sih santai-santai saja, tidak ada kami saling ejek-mengejek bila memakai baju partai atau baju bergambar peserta pemilu. Inilah bentuk rasa simpatik,” tegasnya.

“Di kalangan masyarakat biasa, warna mengingatkan kepada logo, logo mengingatkan kepada warna, bila warna biru seperti ini orang akan langsung berfikir, oh ini warna Demokrat, ini merujuk kepada identitas partai,” tukuknya.

Ketika ditanya apakah dia tahu kalau partai dari baju bergambar kandidat Pilkada yang dia pakai yaitunya Partai Demokrat berulang tahun sebentar lagi pada 9 September 2021, dia menjawab tidak. Dia pun menyampaikan ucapan selamat kepada Partai Demokrat.

“Selamat ulang tahun yang ke 20 tahun kami ucapkan kepada Partai Demokrat, semoga dengan usia dua dekade semakin melekat di hati masyarakat, bintang mercy bercahaya menerangi setiap jalan yang ditempuhnya,” ucapnya.

Lain lagi dengan Acil (49), warga yang bekerja sebagai tukang sol sepatu di pasar Ibuh, Payakumbuh. Alasannya memakai baju itu karena suka dengan partai Demokrat dan kandidat yang maju, memang karena itu yang dia pilih pada Pilkada 2020 kemarin.

Bahkan, dia mengaku menyukai Demokrat sejak zaman Susilo Bambang Yudhiyono (SBY) mencalon hingga menjadi presiden, bisa disebut dirinya pemilih setia Partai Demokrat, meski bukan anggota partai.

“Saya punya dua baju ini di rumah, saya penggemar Mulyadi meski dia kalah dalam pemilihan Gubernur, ini yang saya sukai, saya mendukung calon dan partainya Demokra. Selamat ulang tahun partai Demokrat, akan selalu dekat di hati masyarakat,” ungkapnya bangga.

Sementara itu, menurut Tata, warga Kota Payakumbuh lainnya menyampaikan ini adalah bentuk partisipasi masyarakat, bukti bahwa mereka memiliki peran dalam demokrasi. Mereka tak dibayar untuk memakai baju tersebut, tetap mereka pakai sebagai bentuk pengakuan terhadap keberadaan partai politik.

“Kita sebut lah ini kampanye gratis, sehingga kemanapun pemakai baju ini pergi, orang akan melihat warna dan kandidat, sehingga ingat partainya,” ungkap Tata.

Dihubungi terpisah, menurut Ketua DPC Partai Demokrat Kota Payakumbuh Adi Suryatama menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang sampai kini terus mendukung dan mengakui eksistensi dari partai dan para kader Demokrat.

“Maka dari itu kami mengajak kader Demokrat agar menjawab semangat ini, jangan kalah pula semangat kader daripada masyarakat, ngan baju yang dibagikan saat kampanye ini,” celetuk Adi sembari tersenyum lebar. (FS)

 

#duadekadedemokrat

LEAVE A REPLY