Beranda BERITA TERBARU Mulyandri Ramadhan Bachtiar Tour Guide Terbaik Textyle Art Council Amerika Semenjak 1992

Mulyandri Ramadhan Bachtiar Tour Guide Terbaik Textyle Art Council Amerika Semenjak 1992

177
0
BERBAGI

SUMBAR-MN-Alhamdulillah saya sekarang justru merasa kaya setelah kehilangan segala segalanya khususnya harta benda. Setelah mulai sehat dan mulai bersahabat dengan media dan dunia maya saya banyak mengaggumi tokoh – tokoh muda pariwisata diIndonesia dengan kreativitas dan segmen khusus market pariwisata yang digarapnya tapi setelah kenal mereka justru terinspirasi dan berani mulai berbisnis pariwisata setelah membaca profile – profile tentang saya dimedia. Bahkan ada salah satu yang sudah menjadi top operator dunia yang khusus menggarap premium market dan mempunyai kantor di Singapura, Jakarta dan Bali. Duh…sungguh luar biasa! Saya baru tahu setelah beberapa bulan yang lalu dia tiba – tiba dia menelpon saya dan meminta saya khusus untuk menjadi pembicara untuk even webinarnya untuk partner – partner dia diEropah. Duh begitu bangganya!

Ada juga anak muda setelah termotivasi ketika membaca salah satu profile tentang saya dimedia dia langsung pulang kampung dan membangun nagarinya Nyarai Lubuk Alung – Sumatera Barat sebagai destinasi pariwisata. Aksinya yang luar biasa dengan mengajak pemuda – pemuda yang dulunya para pelaku Illegal lodging sekarang justru menjaga alam. Dan aksinya akhirnya mendapat pengakuan international dengan penghargaan yang dia dapat dari European Outdoor Conservation Association (EOCA). Nomor 1 dunia!

Bahkan salah satu orang terdekat saya yang begitu gigih berjuang bersama telah mendapat penghargaan juga ” Award of Excellent ” dari UNESCO atas usahanya dalam memperkenalkan songket Minangkabau kepada dunia.

Dan beberapa dari mereka sudah mendapatkan penghargaan Kalpataru karena aksi lingkungan dan pariwisata yang digarapnya.

Bahkan sebulan yang lalu ketika Shasami (sarapan sambil silaturahmi) dengan seorang sahabat saya yang sedang menjabat kepala dinas pariwisata Sumbar Dia bilang bahwa dia bersama Wagub Sumbar melakukan melakukan studi banding kesalah satu top destinasi dunia sekarang yaitu Labuan Bajo yang terkenal denganfauna yang eksotiknya yaitu Komodo.

Dan mereka dihandle oleh satu top tour operator disana. Sangat muda dan masih berusia 27 tahun. Pengusaha pariwisata yang sangat sukses untuk ukuran seusianya dan sudah mempunyai 4 kapal pesiar!

Dan yang membuat kaget kepala dinas ketika pengusaha muda tersebut menyebutkan bahwa dia berkecimpung didunia pariwisata karena terinspirasi setelah membaca profile tentang seorang Ridwan Tulus!

“Ridwan Tulus??” Tanya kadis heran. Bahkan sang wagub Sumbar sendiri bertanya siapa Ridwan Tulus karena beliau tidak mengenalnya!

Mendengar cerita sobat saya tersebut saya jadi merasa sangat kaya. Ternyata masih ada juga gunanya saya hidup didunia !

Seorang Mulyandri yang luar biasa!

Alhamdulillah ternyata perjalanan hidup saya tidak terlalu sia – sia. Banyak akhirnya anak muda diSumbar sendiri dan Indonesia yang mengikuti ” Jejak – Jejak TULUS ” dan akhirnya ikut berjuang bersama menciptakan Green Tourism Destination didaerahnya masing – masing.

Alhamdulillah selama perjalanan kehidupan saya ternyata banyak menginspirasi banyak orang. Khususnya didunia pariwisata dan training. Dan hebat serta luar biasanya seorang Andrie (panggilannya) dia bisa memotivasi saya untuk terjun lagi kedunia pariwisata setelah semenjak 2009 saya melupakannya!

Siap Jadi Sopir!

Perkenalan saya pertama kali dengan beliau sekitar tahun 2011 ketika tiba – tiba dia menelpon saya dan mengatakan ingin bertemu saya dan belajar tentang pariwisata. Mendengar kata pariwisata pada saat itu saya tidak menggubrisnya. Saya tidak lagi memikirkan bisnis pada saat itu. Dan permintaan pertemuannya saya tolak. Tapi sepertinya penolakan tersebut tidak membuatnya jera. Dia selalu menelpon saya berulang. Berulang – rulang !..Akhirnya kegigihanya membuat saya kalah. Saya mengabulkan permintaannya untuk bertemu dan mengajaknya Shasami.

Memulai lagi Kebiasaan Shasami

Salah satu kebiasaan saya sebelumnya yang tidak saya lakukan lagi ketika sakit adalah Shasami.

Shasami singkatan dari Sarapan sambil silaturahmi.
Saya biasanya mengajak sarapan teman – teman, orang dekat dan orang yang membutuhkan. Lapau dan warung kopi bukan tempat biasa buat saya bahkan seperti “Kampus Alam” karena disana saya bisa belajar banyak hal. Belajar mengenal kharakter banyak orang dari level bawah sampai atas. Belajar etika, komunikasi dan bahkan bisnis. Bahkan Lapau atau Warung Kopi sudah seperti kantor buat saya. Makanya saya membuat konsep bisnis sendiri ” Alam Takambang Jadi Kantua ” plesetan dari falsafah Minangkabau ” Alam Takambang Jadi Guru ”

Dan biasanya saya saya sarapan setiap paginya di 4 tempat berbeda tergantung dari keinginan sarapan pagi itu dan bertemu dengan siapa.

Dan biasanya disatu tempat saya order makanan dan minuman khusus ala saya dan selalu duduk ditempat yang sama sehingga kalau saya masuk kewarung tersebut waiter langsung teriak ” Pak Ridwan ya…biasa!”.

Dan semenjak saya sakit saya tidak dibolehkan lagi oleh dokter dan khususnya istri untuk membawa mobil sendiri. Dan karena kasihan melihat istri yang selalu mengantar saya Shasami akhirnya saya putuskan membuat aksi sendiri ” No Plan Trip !”

Keisengan saya adalah suka membuat istilah sendiri. Contoh ketika hijrah tahun 2007 saya menyebut diri sendiri sebagai ” Assistant Garin ” yang kalau ditanya ke orang Minang mungkin dia mengerti. Dan ketika menyebut pekerjaan saya sebagai Tour Designer yang bagi orang pariwisata sendiri istilah itu masih awam, Life Experience Tourism, Green Tourism Destination, Sotopreunership ( social tourism ) dan lain – lain.

No Plan Trip adalah kebiasaan baru saya karena saya suka jalan kaki. Dan juga dokter melarang saya olah raga berat. Dan kebetulan dulu saya aktif diorganisasi jalan kaki dengan mendirikan IndonesiaWalks. Bahkan saya pernah jalan kaki sepanjang 400 KM mengelilingi Pulau Kyusu – Jepang dan tertulis dalam sebuah buku ” Kyusu Romance Walking “. Dan bahkan yang lebih luar biasa lagi saya pernah diberi kehormatan membuka even jalan kaki terbesar didunia ” Tokyo 3 Days Walks ” oleh Japan Walking Association (JWA) pada Novermber 2002 dan menjadi presiden jalan kaki termuda didunia di International Marching Leaque (IML). Dan kalau tidak salah satu – satunya presiden yang non jendral karena rata – rata pemimpin asosiasi jalan kaki adalah para jendral!

No Plan Trip bukan jalan kaki biasa. Saya biasa memulai jalan kaki start dari rumah sekitar jam 6 pagi untuk menuju ketempat Shasami yang saya ingini pada pagi itu. Dan sebagai tantangan saya selalu coba rute jalan kaki yang berbeda setiap hari untuk menjadi tantangan buat saya sekaligus mencari inspirasi. Karena saya pernah membaca ” If you walk, you can see the color of wind! “.

Dan saat berjalan apabila menemukan kaca atau paku dijalan saya coba buang ketempat yang aman. Begitu juga sampah! Bahkan diawal tahun 2000an saya malah mengajak wisatawan untuk melakukannya dengan program ” Clean The City by Walking serta Clean the Beach by Walking ” yang saya rancang khusus karena rasa kecewa saya. Karena semenjak Kota Padang tidak dipimpin lagi oleh bapak Syahrul Ujud kota Padang tidak lagi mendapat gelar kota terbersih se Indonesia. Sebetulnya program ini sentilan buat pemimpin dan warga kota orang mau datang kesini untuk memungut sampah..bayar lagi! Tapi lucunya wisatawan saya senang karena merasa turut menyelamatkan lingkungan!

Saya mengajak Andrie pertama kali Shasami disebuah warkop diNipah atau kawasan pecinan dan ingin tahu tentang dia lebih dalam dan kenapa dia ingin belajar pariwisata dari saya.

Junior Saya di STBA Prayoga

Dia bercerita bahwa dia adalah junior saya dikampus. Tapi dia tidak pernah bertemu saya waktu dikampus walaupun dia banyak kenal dan berteman dengan teman – teman saya yang seangkatan dengan saya.

Setelah selesai kuliah dia pergi merantau keBali untuk bermaksud mencari kerja sebagai pemandu wisata atau guide karena dia menguasai bahasa Inggris.

Waktu dia diBali dia tinggal kos ditempat teman – temannya yang seangkatan dengan saya yang sudah datang duluan kesana. Rata – rata pekerjaan mereka sebagai freelance guide dan kerja serabutan apa saja yang bisa menghasilkan income. Tapi kebanyakan mereka berprofesi sebagai guide liar karena belum terdaftar dan tidak memiliki guide license.

Sudah Mendapatkan Bantuan Dari Saya Jauh Sebelum Dia Mengenal Saya.

Waktu dia diBali dia bersama kawan – kawan yang seangkatan dengan saya mengalami kehidupan yang cukup berat karena ada peraturan baru dari dinas pariwisata disana bahwa setiap guide disana harus memiliki license dan license diberikan khusus hanya kepada penduduk lokal. Kehidupan mereka semakin berat karena selalu ada razia dan bagi guide liar akan ditangkap. Cukup lama mereka harus sarapan pagi dengan secangkir kopi dan bakwan. Begitu juga dengan makan siang dan makan malamnya karena sudah tidak mempunyai penghasilan.

Seniornya mulai menghubungi teman – temanya yang sudah dianggap sukses. Dan sedihnya hampir semua menolak dengan alasan baru beli rumah atau mobil. Ada saja alasannya. Tapi ketika seniornya menghubungi saya saya langsung mentransfernya yang membuat mereka selamat juga makannya untuk beberapa lama. Tapi waktu itu dia tetap belum mengenal saya.

Setelah dia merasa gagal diBali akhirnya dia pindah keLombok. Dan tak lama kemudian dia dapat pekerjaan disebuah hotel berbintang disana.

Waktu bekerja dihotel dia banyak melayani dan membantu tamu – tamunya orang asing yang bekerja diNGO Internasional. Salah satu pimpinan NGO dari Swiss sangat senang sekali dengan Andrie dan akhirnya menawarkan dia untuk bekerja diNGO tersebut dengan gaji dan pekerjaan yang lebih menyenangkan. Sampai akhirnya dia memegang posisi yang cukup penting dibagian logistik di NGO tersebut.

Membaca Profile Tentang Saya diKompas

Ketika sekitar tahun 2003 dia membaca sosok tentang saya dikoran Kompas dengan judul ” Ridwan Tulus Bisnis Wisata Jalan Kakinya Mendunia “. Dan disana tertulis tamatan STBA Prayoga tahun 1995 yang berarti sama dengan senior – seniornya diBali pada saat itu. Dia kaget karena ternyata ada juga alumni kampusnya yang sudah mempunyai reputasi internasional. Dan dia sangat senang membacanya karena mempunyai perusahaan tour adalah mimpinya.

Dia langsung menelpon seniornya diBali perihal berita saya diKompas dan menanyakan apakah seniornya tersebut mengenal saya.

” Lo itukan orang yang dulu membantu dan menyelamatkan kita ketika menghadapi masa sulit diBali dulu ” jawab seniornya yang membuat dia ternganga.

Akhirnya karena tertarik dengan ide dan program wisata yang saya kembangkan dia mengumpulkan berita – berita tentang saya baik dimedia cetak maupun internet dan mengklippingnya. Dia sangat tertarik sekali dengan ide – ide saya tentang Life Experience Tourism, Green Tourism dan Social Tourism dan berniat memiliki perusahaan yang sama.

Akhirnya setelah cukup lama berkecimpung didunia NGO dia akhirnya memutuskan mempunyai tour operator operator sendiri. Dia akan mencari saya dan yakin bahwa saya akan mau mengajarnya tentang pariwisata. Dan lucunya ayahnya juga menawari hal yang sama ketika dia mengatakan keinginan yang kuat untuk terjun kedunia pariwisata. ” Carilah orang ini kalau memang ingin terjun kedunia pariwisata !” Kata ayahnya sambil menyodorkan salah satu media nasional yang sosok saya ada didalamnya.

Sebelum memutuskan resign dari perusahaan ngo yang menggajinya sekitar 40 juta sebulannya, dia sebelumnya pernah mendata
lebih dari 1.000-an perusahaan biro perjalanan wisata dari berbagai propinsi di Indonesia dia melihat suatu
kecenderungan kesamaan program (copy paste dalam istilah IT).
Tidak ada kreativitas, sehingga bingung
menentukan siapa yang harus dipelajari karena tidak jelas siapa yang memulai program tersebut, takut belajar
bukan dari sumber yang tepat.
Dan dia menyadari sepenuhnya dunia pariwisata tersebut merupakan suatu usaha yang sangat banyak
variasinya karena secara logika setiap orang akan mempunyai minat yang berbeda. Akhirnya perbedaan yang
dicari tersebut berujung pada program yang diusung Sumatra and Beyond, warna-warni pelangi yang dia
sukai terlihat di sini.
Ternyata tidak warna saja yang ditemui, tetapi juga cara memandang warna tersebut yang sangat unik
yang akhirnya menghasilkan kombinasi warna warni yang mengagumkan.

Makanya setelah dia tahu tentang program – program wisata yang saya garap banyak sekali manfaatnya bukan saja buat wisatawan tapi juga didestinasi yang saya kembangkan dia akhirnya dia nekat untuk resign dan mendirikan perusahaan sendiri dengan nama Malala Tours Indonesia dan dia memohon kepada saya untuk bersedia berbagi ilmu dengannya. Dan dia malah mengatakan siap menjadi sopir saya asal saya mau menerima dan berbagi ilmu dengan dia sambil melihatkan album kumpulan berita tentang saya baik dimedia nasional dan internasional yang telah dikumpulkan cukup lama setelah mengenal saya.

Saya begitu terpaku melihat keinginan yang keras dan tekat yang luar biasa sehingga saya memutuskan untuk menerima dan berjanji dalam hati untuk memberi seluruh ilmu yang saya punya kepada dia walaupun tidak seberapa.

Seorang Tour Operator yang Mantap adalah Seorang Sutradara yang Hebat!

Saya yang semenjak 2009 mengalami perjalanan hidup yang aneh. Apa yang saya suka sebelumnya menjadi tidak suka. tidak lagi memikirkan bisnis apalagi pariwisata. Tapi dia terus bersikukuh dan memotivasi saya. Ada saja cara yang dilakukannya.

Melihat kegigihan dan sikap membantu yang luar biasa dan komitmen awal yang diucapkan bahwa dia siap jadi sopir atau jadi apapun asal dia bisa belajar dan terlibat diperusahaan dan organisasi yang saya punya membuat saya jadi simpatik.

Bahkan saya mulai melibatkan dia disetiap program baik tour maupun training yang sedang kita handle.

Seperti kebiasaan saya selalu mengajak terjun langsung orang – orang yang ingin belajar. Praktek langsung dulu baru teori.Dan lucunya orang belajar kita bayar walaupun sebagian mereka sudah punya perusahaan sendiri. Dan bagi yang belum punya setelah saya lihat dia menguasai saya suruh dia bikin perusahaan sendiri bahkan saya bantu untuk modal awalnya. Makanya salah satu wartawan di Koran Kompas Ingki Rinaldi membuat tulisan dimedianya ” Gilanya seorang Ridwan Tulus kompetitor sendiri diajarinya bahkan dimodali !”

Andri saya libatkan pertama kali di Incentive Program sebuah program pariwisata khusus untuk perusahaan – perusahaan dan organisasi. Pertama saya suruh sebagai penonton dan pembantu dilapangan.
Kebetulan program kita yang dirancang khusus untuk Incentive Market ” TAFT AND GREEN PROGRAM ” sangat diminati banyak perusahaan. Banyak sekali perusahaan multi nasional dan internasional yang tertarik untuk ikut walaupun harga kita cukup mahal dibanding perusahaan – perusahaan jasa serupa diIndonesia karena penggarapannya yang sungguh jauh berbeda. TAFT adalah singkatan dari Tour And Fun Training. Ini adalah satu program yang sangat komplit karena disamping tour mereka juga mendapatkan training untuk leadership, teamwork, communication dan solving problem yang sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan. Bahkan mereka sekaligus ikut aksi peduli lingkungan ” Green Action “.
Andri dengan sigapnya selalu melaksanakan setiap tugas yang diberikan dengan baik. Dan dia selalu menjaga amanah yang saya berikan. Dan lebih seru lagi perjalanan mereka dengan kami diliput media nasional karena mempunyai nilai berita. Jadi dengan mengikuti program ini juga menghemat biaya publikasi suatu perusahaan.

Setelah saya lihat dia cukup menguasai dibidang Incentive Tour saya suruh dia lagi untuk terjun kedunia Study Tour yang juga salah satu keahlian saya. Kebetulan program wisata kami yang saya rancang khusus untuk sekolah seperti ” Sumatra a Journey of Discovery “, ” Experiential Learning in Minangkabau ” banyak diminati oleh sekolah – sekolah internasional bahkan beberapa sekolah terbaik di Inggris seperti Erias High School, Canterbury College telah menjadikan program tersebut menjadi program tahunan mereka. Dan salah satu sekolah di Jakarta Mentari Intercultural School (MIS) telah 10 tahun bekerjasama karena nilai dari program yang kami design khusus buat sekolah tersebut.

Saya terus memantaunya walaupun kadang saya tidak ikut kelapangan. Saya melihat dia sangat kuat dibidang leadership, logistik dan budgetting. Dan juga salah satu keahlian dia ternyata dia seorang penulis yang hebat yang bisa memotivasi saya dan makannya tulisan dia tentang saya dengan judul ” SOTOpreunership Ala Ridwan Tulus ” saya masukan kedalam salah satu kata pengantar. Sebuah tulisan yang membuat saya ingin berbuat lebih baik lagi untuk kepariwisataan Indonesia dan dunia.

Makanya setelah melihatkan komitmen nya yang luar biasa saya mulai memberi tanggung jawab yang lebih besar yaitu sebagai Project Officer dan bahkan menjadi orang kedua saya baik diperusahaan dan Green Tourism Institute. Saya betul – betul memberikan seluruh ilmu yang saya punya dan falsafah dibalik semua kegiatan yang saya rancang.

Jadilah Merah Diantara Putih.

Saya mulai mengajarkan eksistensi kepadanya bagaimana membuat sesuatu yang berbeda dan bermakna disetiap program. Bagaimana membuat program wisata atau training yang disesuaikan dengan kharakter dan interest dari setiap calon klien. Jadi kita harus tahu dulu siapa calon client kita sebelum mendesign programnya. Bagaimana bersaing lebih sehat dengan kompetitor tanpa memburukannya tapi malah mengangkat nama kompetitor sesuai dengan cerita saya juga dibuku ini dengan judul ” Marketing Kopi Ala Ridwan Tulus. Dan hal – hal lain yang sangat dibutuhkan sebelum membuat program.

Dan saya selalu mengingatkan kepadanya ” If you want to be seen by people you must be red in the plenty of white !”. Menjadi berbeda ! Sehingga tidak terjebak dengan para kompetitor lainnya dan perang harga!

You must Know Who is your Client !

Salah satu kelemahan kepariwisataan di Indonesia selain penggarapan program wisatanya adalah pemandu wisata atau yang dikenal sebagai guide. Padahal mereka memegang peranan yang sangat penting dalam dunia kepariwisataan. Sangat penting sekali!

Andri betul – betul saya ajarkan bagaimana menjadi guide yang baik yang sangat menguasai program dan destinasi serta kaya akan narasi.

Waktu itu saya mendapatkan request by email dari Mary Connors President Textyle Art Council of Amerika yang mana dia mengatakan bahwa dia membaca salah satu profile saya dimedia Amerika dan tertarik untuk berkunjung ke Indonesia untuk para membernya sekitar 20 orang. Dan dia minta program wisata khusus yaitu khusus tekstil !

Ini merupakan tantangan baru buat saya karena selama ini belum pernah menggarap wisata khusus untuk pecinta tekstil dunia. Karena saya selalu mencoba bagaimana setiap program yang saya design betul – betul menjadi program yang terbaik bagi yang menggunakan jasa kita.

Saya langsung membicarakan hal ini dengan Andri dan minta dia untuk membuat program ini bersama. Ini tantangan yang menarik buat dia bagaimana dari proses awal sampai akhir sebuah perjalanan wisata. Mulai dari rancangan pembuatan sebuah program sesuai dengan keinginan clients, mulai menentukan destinasi, akomodasi yang digunakan, kendaraan yang digunakan, makanan yang disajikan, expert yang digunakan mulai dari pemandu lokal dan laiinya. Masalah pertimbangan safety dari sebuah perjalanan dan lainya.

Dan disetiap program yang kami design kami selalu juga memasukan unsur Green Tourism tentang bagaimana mereka terlibat langsung dalam aksi protect the cultures, protect the natures, enpower and bring benefit for local people serta ikut juga dalam aksi support conservation. Karena inilah yang membuat kami berbeda dibanding tour operator dan lembaga training yang ada. Kami menjual pengalaman hidup dan kami yakin seumur hidupnya belum tentu mendapatkan pengalaman tersebut ! Makanya setiap tamu yang pernah ikut dengan program kami merupakan pengalaman yang tak terlupakan yang membuatnya ingin kembali dan kembali.

Kami langsung mempelajari profile tentang Textyle Art Council Amerika tersebut. Ternyata mereka sudah keliling dunia untuk melakukan perjalanan tentang tekstil dengan para membernya. Tapi belum pernah ke Asia Tenggara apalagi Indonesia! Dan ini suatu tantangan yang luar biasa karena saya suka tantangan!

Melihat bahwa mereka sudah rutin setiap tahunnya melakukan perjalanan kebeberapa negara lainnya saya langsung menanyakan kepada Mary selama perjalanannya keliling dunia mana program yang terbaik menurut dia, negara mana, berapa trip paling lama dan dan apa unggulan dari program tersebut dari yang lain. Serta hal lainnya tentang perjalanan mereka. Karena saya bilang bahwa saya ingin mempelajarinya supaya kami bisa menawarkan program yang lebih baik.

Dan dia menjelaskan semuanya dengan baik. Dan dia mengatakan bahwa program yang paling baik menurut dia sampai saat ini adalah Machu picchu – Peru. Karena disamping tour operatornya sangat profesional alam dan budayanya juga. Dan program mereka paling lama 12 hari.

Setelah mendapat informasi tersebut saya menantang Andrie untuk bisa membuat program yang lebih bagus.

Dan seperti biasa saya selalu meminta kepada klien setelah mendapat informasi yang cukup dari mereka dengan mengatakan ” Give me a week !” untuk mendesign program khusus buat mereka. Itu salah satu ciri khas saya dalam bidding. Tapi biasanya dalam paling lama 4 hari saya sudah mengirimkan programnya.

24 Days Textile Odyssey ( Meet the Maker )

Akhirnya sebelum hari ke 4 kami sudah mengirim programnya dengan 2 alternatif. Program 14 hari dan 24 hari. Program 14 hari khusus di Sumut dan Sumbar saja dan program 24 hari untuk Jawa dan Sumatera. Dalam program yang kami beri judul ” Textile Odissey – Meet the Maker para peserta akan bertemu langsung dengan local expert yang kadang tidak diketahui umum tapi karyanya sudah mendunia. Bahkan beberapa kolektor seni dunia ternama sudah mengkoleksi karyanya. Kadang luput diperhatikan pemerintah walaupun hidupnya terlunta – lunta.

Dan didalam program tersebut kami melibatkannya dan memberikan reward dan donasi yang diberikan langsung nanti oleh tamu. Sebagai pancingan. Kadang tamu juga akhirnya ikut menambah dengan sukarela. Tanpa paksa.

Salah satu tokoh yang kami angkat pada saat itu adalah Nanda Wirawan. Seorang anak muda yang diSumbar sendiri tidak dikenal orang tapi karya Songketnya sudah mendapat penghargaan dunia. Award of Excellent dari UNESCO. Dan bahkan salah satu karyanya sudah dipajang di musium Amerika.

Akhirnya setelah dikirim mereka langsung memilih program yang 24 hari dan itu merupakan program terpanjang mereka sampai saat ini.

Dan begitu dia mengirim nama – nama peserta kami cukup kaget karena banyak orang ternama didalamnya termasuk salah satu fotographer top dunia.

Alhamdulillah program tersebut berjalan dengan lancarnya. Dan tidak sampai seminggu setelah acara Mary langsung mengirim email ucapan terima kasihnya karena mendapat pengalaman dan momen yang sangat berharga.

Dan dia juga mengatakan bahwa semenjak 1992 melakukan perjalananan keberbagai negara Andrie adalah guide terbaiknya dan begitu juga dengan programnya.

Terima kasih Andrie. Kau begitu membuatku bangga. Dan yang lebih luar biasa lagi kau bisa memotivasi saya untuk kembali lagi berbuat untuk pariwisata Indonesia.

Ayo bersama kita wujudkan Indonesia sebagai Green Tourism Destination yang insyaallah bisa menjadi solusi pariwisata dunia! (****)

LEAVE A REPLY