Beranda BERITA TERBARU Percakapan H. Jufri Zubir Bersama Pemulung Bikin Haru

Percakapan H. Jufri Zubir Bersama Pemulung Bikin Haru

524
0
BERBAGI

Oleh : Zul Lubis

Pentingnya PemimpinSituasi saat itu mendesak bathinku. Ragam pecahan kalimat berkecamuk dalam hati, entah siapalah sebenarnya H. Jufri Zubir ini. Setiap hari aku melihat peristiwa unik nan kerap terjadi. Kecengangan yang tadi belum usai ditambah lagi dengan tegunan baru. Ada-ada saja yang memukau jiwa, dia selalu menunjukan dirinya itu masyarakat nyata. Walaupun aku merasa H. Jufri Zubir akan menjadi pemimpin besar di kota ini, namun hal itu tidak kalah saing dengan sikapnya yang semakin membathin oleh masyarakatnya.

Salah satu momen sederhana namun begitu istimewa ketika berada di Mesjid Raya kota Pekanbaru. Waktu kami hendak pulang dan hanya singgah sebentar untuk shalat. Kala itu cuaca kuakui memang panas, baju putih yang kupakai terasa lebih berat dari biasanya karena ditumpuki keringat. Begitu lelahnya hari itu, aku sendiri yang merasa muda tegap saja serasa mau berebah. Saking lelahnya, yang sering terpikirkan olehku adalah sofa empuk di posko dan sebuah bantal tipis untuk membaringkan tubuh ini sedjenak saja.

Anehnya, H. Jufri Zubir tidak sedikitpun terlihat lelah. Di dalam hati, aku memaki diri sendiri mengapa bisa kalah dengan staminan yang dimiliki pak haji. Ketika di dalam mesjid, dia dan yang lainya shalat di barisan depan. Sementara aku paling belakang sekali. Setelah usai shalat, aku melihat orang-orang di depan tengah berzikir dengan khusyuknya. Dan aku menyegerakan doa lalu keluar mesjid lebih dahulu kemudian duduk di jenjang-jenjang pintu mesjid.

Tak lama setelah itu, pak hajipun keluar dan setelah itu berdiri tepat di sampingku.

“Capek Zul?”, tanya pak haji.

“Nggak kok pak”, aku ngeles sedikit.

“Sebelum masuk saya memperhatikan ada ibu-ibu sedang mungutin botol air gelas, dimana dia Zul? Bisa dicari nggak, ajak ke sini”, tutur pak haji.

“Ada tuh pak, di samping mesjid dekat penjual air akar, saya panggilin dulu sebentar pak”, sahutku lagi untuk penuhinya.

“Ga usah dipanggil Zul, kita susul ke sana aja yuk”, ajaknya.

JZ LEVELSedikit berjalan kaki, kami menjumpai ibu-ibu yang dimaksudkan pak haji tersebut. Aku melihat H. Jufri Zubir tersenyum kepada ibu-ibu itu. Sementara mereka membalasnya dengan senyuman terbata-bata. Sepertinya si ibu itu kenal dengan H. Jufri Zubir dan terlihat kaku layaknya segan sekali sehingga bahasa tubuhnya seakan canggung melihat pak haji datangi dia.

Lalu, seketika pak haji datang dan langsung menyalami ibu-ibu tersebut untuk mengajaknya bicara.

“Ibu, maaf ya saya sedikit mengganggu kegiatan ibu. Saya ingin sekali berbincang sejenak bersama ibu ya”, ajak pak haji.

“Iya, pak. Ada apa tu pak haji?”, tanya ibu Umi.

Berlangsunglah percakapan mereka, aku terus menyimak didekat beliau dan menyaksikan moment itu. Bagiku itu adalah momen baru lagi yang terus-menerus terjadi di hadapanku. Mungkin itulah alasanku berpartisipasi menjadi pejuang kota Pekanbaru melalui majunya H. Jufri Zubir.

Kedua ibu itu sudah mengenal rupa dan nama H. Jufri Zubir. Makanya mereka bersikap canggung, namun pak haji meyakinkan mereka adalah bagian dari dirinya. Pak haji ingin mendapatkan pesan langsung dari mereka, jeritan suara hati mereka itulah yang ingin didengar secara langsung olehnya. Karena dia ingin sekali menjadikan hal itu sebagai penyemangatnya untuk merubah kota yang semakin hari sempit kebahagiaan pada rakyat ke bawah ini.

Dari percakapan itu, si ibu selalu mengatakan bahwa ia kesusahan dalam menyekolahkan anak-anak dan cucunya. Karena baginya, pendidikan terasa sangat sulit sekali untuk ditempuh. Dengan raup wajah serius, H. Jufri Zubir meyakinkan ibu itu bahwa sebentar lagi segala persoalan itu terselesaikan bila ditanganinya. Dan aku melihat, wajah ibu tidaklah tegang lagi, karena menurutku ia merasakan kelegaan setelah mendapatkan seorang pemimpin yang menjadikan suara hati mereka sebagai PR utamanya.

Tak berapa lama, timpun datangi kami. Karena kebetulan ada yang jualan air akar, maka tertebuslah rasa haus ini. Pedagang itupun tampak sumringah dengan keberadaan H. Jufri Zubir di sana. Pedagang itu meminta izin supaya bisa bersalam dengan pak haji, akupun menyentakkan jawaban bahwa untuk menyalami beliau tidak perlu izin. Aku meyakinkan kepada pedagang itu bahwa H. Jufri Zubir itu ialah bagian dari KITA masyarakat kota Pekanbaru. Setelah mendengarkan ucapanku sambil tersenyum mengangguk-nganggukan kepalanya lalu seketika ia sambangi pak haji yang hanya berjarak beberapa meter darinya untuk bersalaman memperkenalkan diri. Sampai-sampai ia sendiri tidak sadar akan diriku yang sedari tadi menunggu air akar yang hendak dibuatnya. Intinya, karena ingin sekali dekat dengan pak haji, rasa hausku jadi seikit tersendat gara-gara kelamaan nunggu air akar.

Pak Haji mengajak semuanya untuk minum bersama suasana nan sangat melekat sekali. Oleh karenanya rasa capekku terbuang sudah tanpa kusadari.

“Ayo, semuanya pesan air akarnya dan istirahat sejenak”, ajak pak haji kepada semuanya, baik juga ibu-ibu itu.

“Kira-kira masih adakah yang ingin disampaikan dari ibu-ibu dan warga di sini, saya sangat senang bila diberikan amanah yang musti dipegang nantinya”, tanya pak haji.

Surat Sedih JufriAlhamdulillah, semuanya sudah tersampaikan secara full dan kamipun pulang. Aku sendiri merasakan kebahagiaan yang sama dirasakan oleh ibu-ibu itu. Yakni sedianya momen istimewa terus-menerus yang kusaksikan setiap kali turun kelapangan. Firasatku mengatakan sangat sulit mencari pemimpin yang mau berbagi tanpa ada batasan antara tokoh dengan masyarakatnya.

Ada hal yang tidak tersangkal sama sekali, yaitu ikatan kemanusiaan seperti apa yang disebutkan para nabi-nabi. Dan hal itu ada pada sosok H. Jufri Zubir.

Sebenarnya, menjadi tim itu hal biasa bagiku. Tapi berada di dalam tim dengan pemimpin hebat itulah yang membuatku merasa luar biasa di sini. Tak menyangka jika nanti Pekanbaru ini berkembang dengan kandungan kesejahteraan serta kemakmuran, betapa damainya. Wasalam, Zul.

LEAVE A REPLY