Beranda OPINI Petaka LGBT menularkan HIV di Banten

Petaka LGBT menularkan HIV di Banten

636
0
BERBAGI

www.maklumatnews.net- Dilansir VIVAnews.com bahwa Perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT, khususnya hubungan sesama jenis, ternyata menjadi pemicu tingginya angka kasus HIV atau AIDS di Banten.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PDSPDI) Banten mencatat, dalam satu tahun terakhir, penderita penyakit tersebut sebanyak 11.238 orang.

“Terdata, setiap tahun penderitanya terus meningkat dan untuk Provinsi Banten ada 11.238 penderita HIV atau AIDS yang mana, 75 persennya berada di Tangerang Raya, yang meliputi Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan,” kata dr I Gede Raikosa usai menggelar senam bersama di pelataran Tangerang City Mall dalam rangka memperingati Hari Aids Sedunia, Minggu, 1 Desember 2019.
(Vivanews.com 01/12/2019)

Penularan virus HIV tersebut paling banyak melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian. Hal itu, lantaran terdapat penggunaan narkoba jenis sabu yang menggunakan jarum suntik.
HIV/AIDS juga bisa menular melalui darah, hubungan seksual, lantaran bisa ditularkan lewat sperma atau cairan dari kelamin, serta air ASI,”.

Sangat menyeramkan, jika hari ini komunitas yang dapat menimbulkan penyakit mematikan masih diberi ruang mengespresikan dirinya atas nama HAM.

Padahal Akibat prilaku yang kebablasan tersebut sangat menghantui masyarakat, karena pelaku bergentayangan kemana-kemana siap mencari korban menularkan perilaku rusaknya.

Komunitas ini telah terang-terangan berbuat maksiat, sudah menyimpang hidup, memakai narkoba, ditambah pula melakukan hubungan free seksual. Tak hanya cukup disini, mereka juga begitu berani memangsa siapa saja yang akan menjadi korban, hingga menularkan penyakitnya. Naudzubillah mindzalik

Agama manapun tidak membenarkan perilaku menyimpang ini, namun mengapa kehadirannya berkembang begitu pesat? Bahkan berkembang di salah satu wilayah yang memiliki slogan yang sangat islami yaitu Kota Tangerang “Berakhlakul Karimah” sungguh miris.

Akibat negeri ini mengadobsi sistem sekulerisme kapitalisme maka pandangan haq dan bathil menurut agama dilangkahi. Alhasil sistem negeri ini hanya memandang segala sesuatu yang menjunjung HAM (kebebasan beragama, berpendapat dan berprilaku) adalah sah-sah saja. Tak terkecuali prilaku kebablasan melanggar fitrah manusia.

Maksiat tidak akan terjadi jika berbagai komponen manusia menyadari dan memahami perkara yang baik dan buruk, yang haq dan batil, yang mendatangkan pahala dan dosa. Namun sebaliknya, jika manusia berada dalam kejahilan agama maka prilaku apapun akan dilakukan tanpa memandang prilaku itu dibenarkan atau tidak dalam syariat.

LGBT adalah perbuatan melampaui batas keluar dari fitrah manusia. Perbuatan ini pernah terjadi di masa nabi Luth yang mendapat murka Allah. Maka sungguh jahil pemikiran manusia jika lGBT dikatakan sebagai bentuk ekspresi manusia yang tidak boleh dilarang.

Islam hadir sebagia rahmat bagi alam, solusi segala masalah (preventif), namun Islam memiliki seperangkat preventif untuk mencegah munculnya problematika hidup manusia, tak terkecuali terhadap pergaulan.

Adapun bentuk preventif agar masyarakat tidak terpapar kehidupan LGBT yang akan menularkan virus HIV, maka harus dilakukan :

1. Meningkatkan ketaqwaan individu dengan pembinaan ilmu agama yang baik, setiap individu harus faham bab pergaulan islami yang diridhoi Allah, memahami bahaya pergaulan bebas serta masalah gender dengan karakteristiknya secara tuntas. Pembinaan tersebut dilakukan diberbagai tempat baik dalam dunia pendidikan yang termuat dalam kurikulum pendidikan, dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anaknya, maupun diberbagai majlis ilmu (pengajian).

2.Kepedulian masyarakat dengan melakukan aktivitas amar ma’ruf nahiy munkar di tengah-tengah lingkungannya, tak membiarkan segala penyimpangan berseliweran dihadapan. Terciptanya suasana lingkungan saling menasehati. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penjagaan pergaulan agar tidak merusak generasi dan mendatangkan murka Allah.

3.Negara sebagai mas’ul (penanggungjawab) dan Ro’in (pelindung) harus memiliki pandangan yang benar, jelas dan tegas sesuai dengan tuntunan syariat terkait kehidupan dan segala kebutuhan rakyat, bukan pandangan mayoritas bahkan pandangan ala barat yang menyesatkan. Akan sangat berbahaya jika penguasa sebagai pelindung rakyat justru memiliki pandangan pergaulan rusak layaknya pelaku maksiat.

4.Negara wajib melegalkan hukum hudud untuk menjaga kesucian, kehormatan dan jiwa manusia. Sebagaimana dalam peradilan Islam, pelaku Liwath (istilah untuk pelaku sodomi),hukumannya adalah dibunuh dalam keadaan bagaimana pun. Jika seseorang yang sudah baligh melakukan  liwath dengan orang baligh lainnya karena sama-sama punya keinginan melakukannya, maka kedua pasangan tersebut harus dibunuh. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

_“Barangsiapa yang mengetahui ada yang melakukan perbuatan liwath (sodomi) sebagaimana yang dilakukan oleh Kaum Luth, maka bunuhlah kedua pasangan liwath tersebut. ”_

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat telah sepakat (berijma’) bahwa pelaku liwath harus dibunuh. Akan tetapi mereka berselisih bagaimana hukuman bunuhnya? Sebagian ulama mengatakan bahwa pelaku liwath mesti dibakar dengan api karena besarnya dosa yang mereka perbuat. Ulama lainnya mengatakan bahwa pelaku liwath mesti dirajam (dilempar) dengan batu. Ulama lainnya lagi mengatakan bahwa hukuman bagi pelaku liwath adalah dibuang dari tempat tertinggi di negeri tersebut, kemudian dilempari dengan batu. Intinya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ingin menjelaskan bahwa pelaku liwath mesti dibunuh berdasarkan kesepakatan para sahabat. Seperti kita ketahui bersama bahwa ijma’ (kesepakatan) para sahabat adalah hujjah (argumen) yang kuat dan  bisa mendukung hadits di atas.

Hukuman liwath sangatlah tegas dan berat agar pelaku menjadi jera serta orang yang menyaksikan tidak coba-coba menirunya. Perbuatan tersebutpun jelas dapat merusak tatanan masyarakat, yang akan mematikan populasi manusia tidak berkembang biak dan mendatangkan murka Allah karena melanggar fitrah. Disinilah rahmatnya Islam dalam menjaga umat manusia dari perbuatan homoseksual atau lesbian. Namun, hudud hanya bisa terlaksana jika pemimpin melegalkannya dalam bentuk hukum negara yang dilandasi dengan Aqidah yang shohih (Aqidah Islam).

Disadari atau tidak Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur
tidak akan tercipta jika pintu maksiat dibuka lebar. Dan sudah saatnya negeri ini bertaubat, mulai dari penguasanya, masyarakat maupun individunya.

Semua harus kompak peduli negeri dari segala maksiat dengan kembali kepada syari’at Allah sebagai petunjuk hidup. Kelak segala amalan manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Oleh : Hawilawati, S.Pd
(Praktisi Pendidikan Tangerang)

Wallahu’alam bishowwab

LEAVE A REPLY