Beranda BERITA TERBARU PRAMUKA PENEGAK DAN PANDEGA DIPERSIAPKAN UNTUK MENJADI KADER PEMBANGUNAN BANGSA, REACSI IX...

PRAMUKA PENEGAK DAN PANDEGA DIPERSIAPKAN UNTUK MENJADI KADER PEMBANGUNAN BANGSA, REACSI IX PRAMUKA IAIN BUKITTINGGI DIBUKA

2101
0
BERBAGI

BUKITTINGGI (MAKLUMAT NEWS). Pembinaan Pramuka bagi golongan Penegak dan Pandega tidak sama dengan golongan Siaga dan Penggalang. Pada golongan Penegak (usia 16-20 tahun), mereka mendapatkan pembinaan untuk mengembangkan kemampuan manajemen di samping tetap berada pada mekanisme pembentukan karakter bangsa dan keterampilan praktis yang diperlukan bagi kehidupan pribadi mereka kelak. Pada golongan Pandega (usia 21-25 tahun) menu pembinaan ditambah dengan pengembangan kemampuan kepemimpinan (leadership) dan kepeloporan yang diperlukan bagi pembangunan bangsa Indonesia. Usaha-usaha pembinaan ini dilakukan di satuan-satuan pramuka seperti gugusdepan dibawah tanggungjawab para Pembina Pramuka. Khusus bagi Pramuka Penegak dan Pandega yang ingin membekali dirinya dengan keterampilan-keterampilan teknis yang berkenaan dengan berbagai bidang pembangunan, maka mereka dapat pula bergabung ke dalam Satuan Karya Pramuka (Saka) yang diselenggarakan bekerjasama dengan berbagai institusi teknis terkait, seperti Saka Bhayangkara, Saka Dirgantara, Saka Bakti Husada, Saka Kencana, dan sebagainya. Dengan demikian, pembinaan Pramuka dilakukan sesuai sasaran sebagaimana tujuan yang ditetapkan oleh Undang-undang nomor 12 tahun 2010 tentang Pramuka. Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Barat, Dr Adzanil Prima Septy, pada pembukaan REACSI ke 9 yang diselenggarakan oleh Gugusdepan Pramuka di kampus IAIN Bukittinggi, Jumat 4 November 2016.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Adzanil, pembinaan Pramuka saat ini sudah menjadi kebutuhan wajib di dalam sistim pendidikan nasional kita. Semisal kurikulum yang dulunya hanya berbasis kompetensi, sekarang sudah ditambahkan dengan muatan karakter dan budi pekerti. Sebab, pendidikan tidak bisa hanya berpijak kepada kebutuhan pengembangan kompetensi saja, tetapi pengembangan karakter bangsa Indonesia yang berbudaya dan berbudi pekerti menjadi perkara penting pula di dalam sistim pendidikan kita. Itu sebabnya pembinaan pramuka di semua jenjang pendidikan menjadi ekstra kurikuler wajib. Artinya, kegiatan pendidikan kepramuka wajib diikuti oleh semua siswa dan wajib pula dilaksanakan oleh sekolah sebagai satuan pendidikan. Dan, membina Pramuka melekat pada jabatan guru tanpa terkecuali. Hal ini diatur oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 63 tahun 2014 tetang Pramuka sebagai ekstrakurikluer wajib.

Persoalan klasik ketika terbitnya sebuah peraturan pemerintah adalah pelaksanaannya. Dalam hal ini, kebutuhan akan tenaga Pembina Pramuka menjadi tinggi, dan guru yang ada di sekolah pun belum semuanya memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pelaksanaan pembinaan kepramukaan. Oleh karena itu, pemerintah juga telah mengalokasikan sebagian anggaran untuk memfasilitasi guru dengan pelatihan-pelatihan Pembina Pramuka bagi guru-guru seperti Kursus Pembina Pramuka Mahir tingkat Dasar dan Lanjutan (KMD dan KML). Pelaksanaan pelatihan-pelatihan seperti ini bekerjasama dengan Kwartir Gerakan Pramuka di berbagai tingkatan (Kota/Kabupaten, Provinsi dan Nasional).

Berkaitan dengan Pramuka di kampus perguruan tinggi, pembinaan kepramukaan bagi mahasiswa berfungsi ibarat 2 sisi mata uang. Di satu sisi, mereka mendapatkan pembinaan sebagai peserta didik, karena golongan Penegak dan Pandega pada dasarnya adalah peserta didik dengan mekanisme pola pembinaan Penegak dan Pandega. Di sisi lain, mereka dipersiapkan untuk menjadi Pembina Pramuka yang akan mengimplementasikan dirinya di dalam masyarakat ketika menamatkan pendidikannya kelak. Apalagi mahasiswa yang berlatar belakang keguruan dan kependidikan, kata Adzanil. Penyelenggaraan pembinaan Pramuka di kampus perguruan tinggi seperti ini merupakan roh dari kerjasama antara Kwartir Nasional Gerakan Pramuka  dengan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi yang telah ditandatangani pada tahun 1982, tambah Adzanil.

Dr Adzanil juga menjelaskan bahwa penyelenggaraan sistim diklat kepramukaan yang membekali mahasiswa calon guru sebagai Pembina Pramuka nantinya juga dapat meningkatkan daya serap mereka di lapangan kerja. Ijazah diklat pramuka dapat digunakan sebagai Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang sangat berguna bagi mahasiswa secara pribadi ketika akan menamatkan pendidikannya, dan juga dapat membantu mereka untuk mengkatualisasikan diri sebagai pendidikan di berbagai tingkat sekolah nantinya. Namun demikian, pihak kampus perlu berkoordinasi dengan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka setempat untuk pelaksanaannya.

Pada kesempatan itu, Adzanil juga menginformasikan barbagai kegiatan Pramuka bagi golongan Penegak dan Pandega yang akan diselenggarakan pada di tingkat daerah maupun nasional. Semua Pramuka Penegak dan Pandega berpeluang untuk mengikuti kegiatan tersebut asalkan lolos seleksi. Misalnya kegiatan Raimuna Nasional yang akan diselenggarakan pada pertengahan 2017 mendatang. Diantara persyaratannya harus mencapai syarat kecakapan umum (SKU) minimal tingkat bantara dan atau sudah menyelesaikan sku Pandega dengan benar. Di samping itu, mereka juga harus mengikuti tahapan seleksi melalui kegiatan Raimuna Cabang yang diselenggarakan di Kwartir Cabang Kota/Kabupaten masing-masing.

Pembukaan REACSI ke 9 ini juga dihadiri oleh Sekretaris Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Bukittinggi kak Edianto beserta pengurus lainnya kak Farizal. Juga hadir salah seorang pengurus Pusdiklatda Pramuka Sumatera Barat kak Syofyan Effendi yang nantinya akan bertugas sebagai juri kegiatan lomba yang diselenggarakan pada REACSI ke 9 ini. Turut hadir juga jajaran pimpinan IAIN Bukittinggi (*Son).

LEAVE A REPLY